Headlines News :

Mauro Zarate Berikan Inter Milan Kemenangan

Written By Japrax on Rabu, 28 September 2011 | 02.04

Pemain pengganti Mauro Zarate memberikan Inter Milan kemenangan setelah menundukkan CSKA Moskwa 3-2 dalam matchday kedua Grup B Liga Champions di Stadion Olimpiyskiy Luzhniki, Rabu (28/9) dinihari WIB.

Kemenangan ini sangat berharga bagi Inter untuk membuka persaingan di Grup B setelah pada laga perdana ditekuk Trabzonspor 1-0. Ini juga menjadi kemenangan kedua Inter di bawah asuhan Claudio Ranieri.

Ranieri tidak bisa menurunkan sejumlah pemain terkait masalah kebugaran, seperti Wesley Sneijder, Andrea Ranocchia, Dejan Stankovic, Thiago Motta, dan Douglas Maicon.

Kondisi pincang juga dialami CSKA yang tidak diperkuat kiper andalan Igor Akinfeev, Keisuke Gonda, Viktor Vasin, Tomas Necid, Georgi Schennikov dan Mark Gonzalez.

Inter langsung menggebrak pertahanan tuan rumah guna mencuri gol lebih dulu. Hasilnya, laga berjalan enam menit, kesalahan barisan pertahanan CSKA saat menghadapi sepak pojok harus dibayar mahal. Lucio melepaskan tendangan keras, dan sempat membentur pemain belakang lawan, untuk membobol gawang Vladimir Gabulov.
Beberapa saat kemudian, Inter nyaris menggandakan keunggulan ketika Giampaolo Pazzini melakukan penetrasi, dan melepaskan umpan kepada Joel Obi. Namun tandukan Obi bisa digagalkan Gabulov.

Inter akhirnya berhasil menggandakan keunggulannya di menit ke-23. Yuto Nagatomo berhasil masuk ke kotak penalti dari sisi kiri pertahanan CSKA dengan memperdayai Aleksei Berezutski, dan memberikan umpan kepada Pazzini untuk menjebol gawang tuan rumah.

Menjelang babak pertama berakhir, CSKA bangkit dan memberikan ancaman di pertahanan Inter. Alan Dzagoev melepaskan tendangan setengah voli yang memaksa kiper Julio Cesar bekerja keras memblok bola. Tak lama kemudian, tandukan Seydou Doumbia mengancam gawang Inter.

CSKA akhirnya berhasil memperkecil ketertinggalan melalui tendangan bebas Dzagoev menjelang babak pertama berakhir. Tendangan bebas diberikan wasit menyusul pelanggaran terhadap Sekou Oliseh.

Ranieri kemudian melakukan pergantian pemain dengan menarik keluar Pazzini, dan memasukkan Zarate di babak kedua. Pergantian ini tidak mengubah permainan menyerang Nerazzurri.

Hadirnya Zarate memberikan ancaman di pertahanan CSKA. Pada menit ke-58, setelah berhasil masuk ke kotak penalti, Zarate melepaskan tendangan cukup keras, tapi dapat digagalkan Gabulov.

Pada menit ke-78, pendukung CSKA bersorak kegirangan ketika Vagner Love berhasil menyamakan kedudukan. Setelah melewati hadangan Lucio, Love melepaskan tendangan keras yang tak bisa dihadang Cesar.

Namun kegembiraan tuan rumah tidak bertahan lama. Selang dua menit kemudian, Zarate kembali membawa Inter unggul lewat serangan cepat. Mendapat umpan Esteban Cambiasso dari lini tengah, Zarate menyambut bola, dan melepaskan tendangan keras kaki kiri yang gagal dihentikan Gabulov.

CSKA berusaha mengejar ketertinggalannya, namun dengan mudah dikandaskan barisan belakang Inter. Hingga pluit panjang ditiupkan wasit, skor 3-2 tidak mengalami perubahan.

Claudio Ranieri Khawatirkan Cedera Wesley Sneijder

Claudio Ranieri mungkin belum bisa menggunakan tenaga Wesley Sneijder untuk waktu yang lama karena cedera yang dialami gelandang Inter tersebut.

Sneijder mengalami cedera otot dan sudah absen saat Inter menang 3-1 atas Bologna di Serie A Italia akhir pekan silam.

Diungkapkan Ranieri, Sneijder mungkin akan absen untuk sementara waktu, termasuk saat Inter menghadapi CSKA Moskwa di Liga Champions.

"Sneijder tidak akan pergi ke Moskwa dan hal ini menjadi pukulan telak bagi kami," ungkap Ranieri.

"Ketakutan saya adalah dia akan absen untuk waktu yang lama karena cederanya ternyata lebih serius dari yang pertama kami kira. Kami masih harus menunggu apa kata dokter."

Bukti Baru, Ternyata Wasit Juga "Bantu" Inter

Bola.net - Luciano Moggi beserta tim kuasa hukumnya kini tengah bersiap menghadirkan bukti baru dalam persidangan Calciopoli. Bukti baru ini mengungkapkan para mafia skor yang tengah melakukan negosiasi untuk membantu Inter Milan, bukannya Juventus.

Pria berusia 74 tahun ini sudah dicekal dari sepakbola Italia untuk seumur hidupnya dan kini menjalani proses persidangan yang melibatkan dirinya dengan mafia skor, oknum wasit dan juga oknum di tubuh Federasi Sepakbola Italia (FIGC).

Seminggu lalu, saat persidangan terakhir, Moggi berkoar bakal menunjukkan bukti baru yang disebutnya akan mengubah segalanya. Media Italia, Tuttosport mengungkapkan transkrip pembicaraan yang dibawa oleh kuasa hukum Moggi pada persidangan di Naples.

Dalam transkrip ini, memperdengarkan pembicaraan antara mafia skor dan mantan wasit, Paolo Rodomonti sesaat sebelum laga Inter melawan Juventus pada tahun 2004 yang berkesudahan dengan skor imbang 2-2.
Saat itu, Juve sedang memuncaki klasemen Serie A dengan keunggulan 15 poin dari Inter Milan.
Berikut transkrip percakapan Bergomo kepada Rodomonti:
"Ada selisih 15 poin antara kedua tim, pastikan kamu sudah mempersiapkan segala sesuatunya," ucap Bergomo kepada Rodomonti.

"Pimpin pertandingan seperti biasa dan jika ada keputusan yang meragukan. Berpihaklah kepada tim yang sedang tertinggal (di klasemen), bukan yang sedang memimpin, apa kamu mengerti yang saya katakan?"
"Ini hanya antara kita berdua. Kamu sendiri tahu betapa sulitnya untuk meraih posisi puncak dan jika kamu gagal maka kamu tidak cukup baik. Berusahalah bersikap cerdas."
Sidang lanjutan kasus Calciopoli ini akan digelar hari ini (27/9)

Main Lawan CSKA Moskwa, Javier Zanetti Ukir Rekor

Rekor demi rekor terus ditorehkan Javier Zanetti. Dinihari nanti, jika dimainkan saat Inter Milan menghadapi CSKA Moskwa, Ia akan memiliki rekor baru.

Menurut Il Corriere dello Sport, Zanetti akan tampil untuk kali ke-143 di kompetisi Eropa jika tampil dinihari nanti.

Catatan itu akan memposisikan Zanetti dalam daftar lima besar pemain yang paling sering tampil di kompetisi antarklub Eropa.

Namun catatan Zanetti masih belum bisa menyamai rekor yang dicatat Paolo Maldini dengan 174 penampilan, Clarence Seedorf (156), Raul Gonzalez (152) dan Roberto Carlos (144).

Sebelumnya, Zanetti baru memecahkan rekor penampilan untuk Inter Milan sebanyak 757 pertandingan, mengungguli rekor Giuseppe Bergomi.

Cesare Prandelli: Bersama Claudio Ranieri Inter Akan Bangkit

Bos tim nasional Italia Cesare Prandelli mengutarakan keyakinan kebangkitan Inter Milan akan terjadi di bawah polesan pelatih Claudio Ranieri.

Hal ini dikatakannya setelah menyaksikan laga antara Napoli dan Fiorentina yang berakhir imbang tanpa gol.

"Pemecatan [Gian Piero] Gasperini memang cukup disesalkan, tetapi inilah sepakbola," kata Prandelli.

"Saya senang melihat Ranieri kembali ke sisi lapangan. Seperti yang biasa dilakukan Ranieri, Inter boleh berharap adanya perubahan besar dari kehadirannya."

"Keberhasilan [Giampaolo] Pazzini kembali mencatatkan namanya di papan skor adalah salah satu pertanda," tutup Prandelli.

'Inter Sudah Kembali Normal'

Milan - Kemenangan atas Bologna akhir pekan lalu mengangkat mental Inter Milan. Bos besar Inter, Massimo Moratti, menyebut kemenangan itu telah membawa timnya kembali normal.

Laga melawan Bologna di Renato Dell' Ara, Sabtu (24/9/20110 malam WIB adalah ujian perdana pelatih baru, Claudio Ranieri, dan ia pun sukses melewatinya. Inter dibawanya meraih kemenangan perdana musim ini dengan skor 3-1.

Dengan kemenangan pertamanya di Seri A musim ini tersebut, Inter beranjak dari posisi 18 klasemen ke peringkat 11 dengan raihan poin empat. Hasil tersebut pun diharapkan berlanjut dengan hasil-hasil bagus lainnya.

"Segalanya tampak kembali normal lagi. Saya sangat senang dengan penampilan tim kala melawan Bologna. Segalanya berjalan dengan baik," ujar Moratti kepada La Gazzetta dello Sport.

Moratti juga sedikit memberikan komentar mengenai Gian Piero Gasperini yang didepak atas serangkaian hasil buruk Inter. Ia menyebut, Gasperini mungkin saja bisa memperbaiki performa Inter, tapi hal tersebut bakal memakan waktu dan bisa berisiko lebih besar untuk tim.

"Gasperini mungkin saja bisa memperbaiki keadaan, tapi ada terlalu banyak risiko," tuntasnya.

Giampaolo Pazzini: Sudah Waktunya Inter Milan Bangkit

Inter Milan diharapkan bisa bangkit sekali lagi dari keterpurukan mereka dan meraih kemenangan di Liga Champions, menyusul kekalahan di matchday pertama.

Hal itu diungkapkan Giampaolo Pazzini jelang laga melawan CSKA Moskwa dinihari nanti di Rusia.

Menurut Pazzini, kekalahan atas Trabzonspor di Giuseppe Meazza tidak seharusnya terjadi. Namun, karena sudah terlanjur, Inter Milan harus bisa membayar kegagalan itu di lima pertandingan berikutnya.

"Liga Champions adalah kompetisi yang sangat berimbang, jadi satu kekalahan tidak berarti banyak," kata Pazzini, Selasa (27/9).

"Kami masih memiliki lima pertandingan lagi untuk dimainkan dan kami tahu kami bisa lolos ke babak selanjutnya."

"Tentunya tidak akan mudah, tapi di Moskwa, kami harus menunjukkan bahwa rasa lapar dan keinginan untuk sukses menjadi dasar kami untuk tetap bangkit," tandasnya.

Menang, Inter Tinggalkan Zona Degradasi

Written By Japrax on Minggu, 25 September 2011 | 01.52

Bologna - Inter Milan akhirnya memetik kemenangan pertama musim ini, bermodal kemenangan 3-1 atas Bologna. Tambahan poin ini membuat Inter tak lagi menghuni zona degradasi.

Di Stadio Renato Della'Ara, Minggu (25/9/2011) dinihari WIB, Inter menang berkat gol Giampaolo Pazzini, Diego Milito dan Lúcio. Bologna hanya bisa membalas lewat Alessandro Diamanti.

Dengan kemenangan pertamanya di Seri A musim ini tersebut, Inter beranjak dari posisi 18 klasemen ke peringkat 11 dengan raihan poin empat. Jumlah poin sama juga dimiliki tiga tim di atas Inter, tetapi La Beneamata kalah dalam hal selisih gol.

Jalannya Pertandingan

Inter memiliki peluang di menit ke-6. Dari situasi bola mati, Forlan mengirim bola ke muka gawang dengan Samuel meneruskan. Sial untuk Inter, bola sepakannya tepat mengarah ke Gillet.

Bologna mencatatkan peluang bagus pada menit 11. Di sisi kiri Di Vaio lolos dari jebakan offside meski sepakannya masih melambung.

Pada menit 13 sepakan Forlan nyaris saja bersarang di gawang Bologna. Namun, bola masih membentur tiang.

Inter memimpin pada menit 39. Pazzini menyepak bola dengan keras dan meski Gillet bisa sedikit menepis, si kulit bundar tetap bersarang di dalam gawangnya.

Empat menit memasuki babak kedua, Inter nyaris saja menggandakan keunggulan. Usaha Coutinho masih bisa dihadang pemain lawan, tapi Cambiasso berhasil menyambut bola muntah. Sial untuk Inter, sepakannya belum mengubah skor.

Tiga menit kemudian, Bologna ganti menekan. Diamanti mengirim bola ke Di Vaio, meski Julio Cesar dengan sigap masih mampu mengamankan gawangnya.

Bologna akhirnya menyamakan kedudukan pada menit 66 setelah wasit menunjuk titik putih akibat adanya pelanggaran di kotak terlarang. Diamanti maju dan menuntaskan tugas dengan baik.

Inter kembali unggul dengan pertandingan tinggal tersisa sembilan menit lagi. Morleo dikartu merah dan wasit menunjuk titik putih dengan Milito yang jadi algojo sukses bikin Inter memimpin 2-1.

Menjelang bubaran, kemenangan Inter dipastikan oleh gol dari Lucio. Dari tendangan bebas, bola dilayangkan ke muka gawang untuk kemudian ditanduk oleh Lucio.

Susunan Pemain:

Bologna: 1 Gillet (Agliardi 70'); 16 Casarini, 90 Portanova, 5 Antonsson, 3 Morleo; 15 Perez, 26 Mudingayi, 33 Konè; 10 Ramirez (Krhin 79'), 23 Diamanti; 9 Di Vaio (Acquafresca 64')

Inter: 1 Julio Cesar; 55 Nagatomo, 6 Lucio, 25 Samuel, 26 Chivu; 29 Coutinho (Jonathan 54'), 4 Zanetti, 19 Cambiasso, 20 Obi (Muntari 65'); 7 Pazzini, 9 Forlan (Milito 75')

'Pengaruh Jose Mourinho Terlalu Kuat Di Inter'

Amedeo Carboni, mantan staf pelatih Inter Milan, mengatakan siapa pun tidak bisa menghindari bayangan Jose Mourinho ketika menerima tawaran menangani Nerazzurri.

Carboni datang ke Inter sebagai asisten Rafa Benitez. Ia pergi setelah presiden Massimo Moratti memecat pelatih asal Spanyol itu.

Menurut Carboni, tidak ada yang sulit melatih di Appiano -- kamp latihan Inter Milan. Namun, katanya, hanya ada sedikit ruang bagi pelatih baru untuk melakukan perubahan gaya bermain.

"Setelah cerita sukses ditorehkan Jose Mourinho, Inter seolah tidak ingin menang dengan cara berbeda," ujar Carboni.

"Manajemen tidak menghendaki hal itu. Pemain, terutama yang sudah sekian tahun berada di Inter, juga enggan mengubah gaya bermain," lanjutnya.

Menjawab pertanyaan apakah cerita kegagalan Rafa Benitez dan Gian Piero Gasperini relatif sama, Carboni mengatkan; "Sangat berbeda." Menurutnya, Benitez datang dengan motivasi tinggi dan keyakinan, Gasperini tidak.

Carboni juga mengatakan setelah kepergian Mourinho, siapa pun pelatih yang datang dari luar bukan pilihan pertama. Benitez adalah salah satunya.

"Benitez membutuhkan pemain baru yang bisa memberikan energi. Inter tidak memberi," tutur Carboni.

"Ketika Benitez pergi, Inter memboyong Giampaolo Pazzini. Pelatih mana pun bisa membuat 20 poin dengan tambahan Pazzini," demikian Carboni.<script type="text/javascript" src="http://ad.doubleclick.net/adj/gna.id/level2;tile=3;sz=160x600;ord=359235?area=2l&pos=2&ord=359235"></script>

Carboni juga mengatakan tidak ada penentangan dari pemain terhadap Rafa Benitez. Tidak sama sekali.

Stankovic: Ranieri Akan Bangkitkan Kembali Inter

Milan - Inter Milan menaruh harapan besar pada Claudio Ranieri saat ditunjuk menggantikan Gian Piero Gaseprini. Dejan Stankovic yakin kalau pilihan timnya tepat karena Ranieri bakal membangkitkan kembali Nerazzurri.

"Saya tidak terkejut dengan pemecatan Gasperini. Itu tak terhindarkan setelah menderita tiga kekalahan dari empat pertandingan," sahut Stankovic seperti diberitakan Football Italia.

Sebagai pengganti Gaseperini, Inter telah menunjuk Ranieri untuk duduk di kursi kepelatihan. Meski tak pernah benar-benar punya prestasi mentereng bersama beberapa klub, Stankovic percaya kalau Ranieri akan bisa membangkitkan kembali Inter.

"Ranieri sudah bekerja di klub-klub besar dan dia pastinya akan membantu kami keluar dari situasi yang sangat sulit ini. Dia akan mengeluarkan kami dari lumpur," lanjut gelandang berusia 33 tahun itu.

Terkait beberapa kekalahan yang diderita di awal musim ini, Stankovic menyebut itu melebih mimpi buruknya. Karenanya dia mengingatkan skuad Inter untuk segera meraih kemenangan.

"Bahkan tidak di mimpi buruk saya bisa membayangkan start musim seburuk ini. Jangan lupa, masih belum lama saat bersama Jose Mourinho kami bisa menyentuh bintang. Lalu kami berganti empat pelatih dan itu sulit saat harus bekerja dengan metode dan taktik baru," demikian tuntasnya.

Sneijder-Stankovic Absen, Ranocchia Diskors 3 Laga

Milan - Langkah Inter Milan untuk meraih kemenangan perdana musim ini akan berat. Melawan Bologna akhir pekan ini, Il Biscione tak akan diperkuat Wesley Sneijder dan Dejan Stankovic.

Seperti dilansir dari Football Italia, kedua pemain kunci Inter itu tak disertakan Claudio Ranieri dalam skuad yang akan bertandang ke Renato Dall'Ara, Sabtu (24/9/2011) malam WIB.

Sneijder mengalami cedera saat Inter kalah 1-3 dari Novara kemarin. Ia digantikan Mauro Zarate di pertengahan laga karena mengalami cedera paha dan hingga sehari menjelang laga, kondisi playmaker asal Belanda itu belum fit sepenuhnya.

Sedangkan Stankovic masih bermasalah dengan cedera yang didapatnya saat Inter kalah dari Palermo di laga perdana Seri A. Sneijder dan Stankovic bergabung di ruang perawatan bersama Ivan Cordoba, Douglas Maicon, Thiago Motta, Andrea Poli dan Emiliano Viviano.

Ini tentunya awal yang berat bagi Ranieri sebab Sneijder adalah jenderal lini tengah La Beneamata dan musim lalu Inter cuma mampu bermain imbang 0-0 di kandang Bologna. Sebagai alternatif, Diego Forlan bisa dipasang sebagai trequartista sebagaiman peran yang dilakoninya di timnas Uruguay.

Tak hanya kehilangan dua pemain di atas, Inter juga tak akan diperkuat Andrea Ranocchia untuk tiga laga ke depan karena skorsing kartu merah saat melawan Novara. Karena dianggap memprotes wasit terlalu keras, otoritas Seri A pun menjatuhkan hukuman tambahan pada bek 23 tahun itu.

Inter: 1 Julio Cesar, 12 Luca Castellazzi, 21 Paolo Orlandoni; 6 Lucio, 25 Walter Samuel, 26 Cristian Chivu, 37 Davide Faraoni, 42 Jonathan, 55 Yuto Nagatomo; 4 Javier Zanetti, 11 Ricardo Alvarez, 19 Esteban Cambiasso, 20 Joel Obi, 29 Coutinho, 77 Sulley Muntari; 7 Giampaolo Pazzini, 9 Diego Forlan, 22 Diego Milito, 28 Mauro Zarate, 30 Luc Castaignos

Mourinho: Forza Ranieri!

Madrid - Bukan rahasia jika Jose Mourinho dan Claudio Ranieri kerap berselisih dan punya hubungan tak harmonis. Tapi saat Ranieri jadi pelatih Inter Milan, Mourinho mendukung penuh pria asal Italia itu.

Awal perselisihan tentunya adalah saat Ranieri didepak Chelsea pada 2004 dan Mourinho datang menggantikannya. Setelahnya Mourinho pun menuai kesuksesan bersama The Blues, tak seperti Ranieri.

Persaingan keduanya berlanjut ke Seri A saat Mourinho melatih Inter. Dalam dua musim beruntun, Mourinho selalu mengalahkan Ranieri dalam perebutan scudetto. Setelah Juventus cuma jadi runner-up pada musim 2009, semusim berikutnya giliran AS Roma bernasib sama.

Tak jarang keduanya terlibat adu mulut yang membuat perseteruan keduanya kian memanas. Tapi lain dulu, lain sekarang. Posisi Ranieri saat ini adalah allenatore Inter, klub yang dicintai Mourinho dan tempat pria berpaspor Portugal itu menuai sukses.

"Aku bukanlah fans palsu, melainkan aku adalah fans sejati Inter," sahut Mourinho dalam konfererensi pers di markas Real Madrid.

"Inilah mengapa aku tidak peduli siapa pelatihnya, aku hanya ingin Inter menang. Jika saat ini Ranieri, maka aku akan bilang Forza Ranieri. Aku berharap dia akan sukses di sana," lanjut Mourinho.

Sejak ditinggal Mourinho, La Beneamata sudah berganti empat kali pelatih. Apakah ini pertanda Mourinho masihlah yang terbaik untuk klub Massimo Moratti itu?

"Jangan khawatir, aku bukanlah pelatih yang hebat. Pelatih sepertiku pun terkadang juga bisa gagal," tuntas Mourinho seperti diwartakan Football Italia.

Inter Punya 'Mr Runner-up' Lagi

Milan - Untuk kedua kalinya dalam satu dekade, Inter Milan kedatangan Mr. Runner-up lagi setelah Hector Cuper, yaitu Claudio Ranieri. Bisakah Ranieri memutus julukan tak mengenakkan itu sekaligus membawa La Benemata berprestasi musim ini?

Selepas laju buruk bersama Gian Piero Gasperini di lima laga awalnya tanpa kemenangan, Massimo Moratti menunjuk Ranieri sebagai pelatih dengan kontrak dua musim.

Harapan Moratti tentunya Ranieri dengan julukannya sebagai The Tinkerman alias tukang reparasi, bisa mengembalikan lagi performa Inter dan membawa klub Italia peraih gelar treble winner pertama itu ke jalur kemenangan.

Waktu Ranieri pun masih panjang dan dengan kualitas pemain yang dimilikinya saat ini, Ranieri punya peluang besar untuk membawa setidaknya membawa dulu Inter ke papan atas Seri A.

Tapi apakah Ranieri dapat mempersembahkan trofi untuk Nerazzurri di penghujung musim? Mungkin banyak orang yang mempertanyakan hal itu mengingat latar belakang Ranieri yang kerap gagal membawa timnya jadi juara, sehingga ia mendapat julukan lain, Mr Runner-up.

Saat menangani Chelsea dari musim 2000 hingga 2004, ia kalah di final Piala FA 2001 dari Arsenal dengan skor 0-2. Di musim 2003-2004 saat kedatangan Roman Abramovich, The Blues cuma di bawa nangkring di posisi kedua pada akhir musim, di bawah Arsenal.

Di musim 2009 saat ia menangani Juventus, kembali ia gagal membawa timnya jadi juara setelah hanya finis sebagai runner-up di bawah Inter. Semusim setelahnya ia ditunjuk jadi pelatih AS Roma dan hasilnya? lagi-lagi cuma finis di posisi kedua yang bisa diraihnya.

Langkah Moratti menunjuk Ranieri ini sama persis seperti saat taipan minyak itu mengangkat Cuper sebagai pelatih Il Biscione pada musim 2001-2003. Sebelum melatih di Italia, nasib Cuper di La Liga pun sebelas-dua belas dengan Ranieri.

Saat menangani Real Mallorca, Cuper dua kali menjadi runner-up, yakni di Copa Del Rey 1998 setelah kalah dari Barcelona dan semusim setelahnya di final Piala Winners 1999 ditaklukkan Lazio.

Di Valencia nasibnya lebih apes karena dua kali beruntun membawa El Che melaju ke final pada tahun 2000 dan 2001, namun semuanya berakhir dengan kekalahan dari Real Madrid serta Bayern Munich.

Bagaimana dengan di Inter? Setelah nyaris membawa Inter jadi juara di musim 2001/2002 (kalah 2-4 dari Lazio di pekan terakhir dan finis di posisi ketiga), Cuper akhirnya cuma membawa Inter jadi runner-up di musim berikutnya.

Kini Ranieri bukan hanya harus membawa Inter berprestasi melainkan melawan "bayangan" Cuper serta status dirinya sebagai spesialis posisi kedua. Mampukah Ranieri memutus "kutukan" itu? Kita tunggu saja di akhir musim.

Foto: Claudio Ranieri langsung memimpin latihan perdananya bersama Inter. Laga pertamanya adalah kontra Bologna, Sabtu (24/9) malam WIB besok. (Reuters)

RESMI: Claudio Ranieri Tangani Inter

Kurang lebih 24 jam bangku pelatih Inter dalam kosong setelah Gian Piero Gasperini didepak kemarin. Namun kini bangku tersebut sudah resmi terisi dengan ditunjuknya Claudio Ranieri sebagai pengganti.

Kepastian itu diumumkan Inter dalam laman resmi klub hari ini.

"Claudio Ranieri secara resmi menjadi pelatih Inter. Yang bersangkutan sudah menandatangani kontrak yang membuatnya terikat dengan klub hingga 30 Juni 2013," Inter dalam keterangan mereka.

"Semua di Inter senang bisa menyambut Claudio Ranieri dan staff-nya," lanjut pernyataan tersebut.

Dipilihnya Ranieri tidak lagi menjadi hal yang mengejutkan karena mantan allenatore Roma tersebut sebelumnya sudah mengindikasikan akan menjabat sebagai arsitek Inter berikutnya.

Inter Pecat Gasperini

Written By Japrax on Rabu, 21 September 2011 | 18.23

Milan - Sesuai prediksi, hari ini Gian Piero Gasperini kehilangan jabatannya sebagai pelatih Inter Milan. Nerazzurri sudah resmi mendepak allenatore berusia 53 tahun itu.

Nasib Gasperini memang makin tak menentu setelah Inter kalah 1-3 dari Novara, Rabu (21/9/2011) dinihari WIB. Itu adalah kekalahan keempat dalam lima laga yang dilakoni La Beneamata sejak ditukangi Gasperini.

Lewat situs resminya, Inter hari ini mengumumkan bahwa mereka telah mengakhiri kerja sama dengan Gasperini.

"Inter Milan mengumumkan bahwa pagi ini, di pusat olahraga Appiano Gentile, latihan tim utama dipimpin oleh Giuseppe Baresi dan Daniele Bernazzani."

"Klub ingin mengucapkan terima kasih kepada Gian Piero Gasperini atas usahanya bersama tim, dan kami mengungkapkan penyesalan atas berakhirnya hubungan dengannya."

Beberapa nama telah muncul sebagai kandidat pengganti Gasperini. Di antaranya Claudio Ranieri, Walter Zenga, Carlo Ancelotti, hingga Delio Rossi.

Ranieri dan Ancelotti di Bursa Calon Pelatih Inter

Milan - Kekalahan keempat Inter Milan di musim ini membuat posisi Gian Piero Gasperini di ujung tanduk. Beberapa nama mulai muncul sebagai calon pengganti, di antaranya adalah Claudio Ranieri dan Carlo Ancelotti.

Inter dinihari tadi menelan kekalahan mengejutkan saat bertandang ke Novara. Skuad besutan Gian Piero Gasperini tunduk dengan skor 1-3 atas klub yang musim ini baru promosi tersebut.

Ini merupakan kekalahan keempat Inter dari lima pertandingan kompetitif yang mereka lalui di musim ini. Nerazzurri sebelumnya tunduk atas AC Milan, Palermo dan Trabzonspor serta diimbangi AS Roma.

Keseluruhan fakta itu membuat pergantian pelatih di klub tersebut diyakini bakal terjadi dalam waktu dekat. Apalagi Massimo Morratti sudah menyatakan ketidakpuasannya terjadap kinerja Gasperini.

Lalu siapa yang akan menggantikan posisi Gasperini? Usai kekalahan atas Novara beberapa nama yang muncul di antaranya adalah Claudio Ranieri dan Carlo Ance lotti.

Ranieri saat ini memang telah menganggur, setelah memutuskan mundur sebagai pelatih AS Roma di awal Februari 2011 lalu. Namun sebelum memutuskan meletakkan jabatan dia berhasil mengantar Roma menjadi pesaing serius Scudetto di musim 2008/2009, di mana Roma duduk di posisi dua klasemen akhir dan cuma terpaut dua angka dari Inter.

Nama lain adalah Ancelotti, yang akhir musim lalu diberhentikan Chelsea. Kegagalan memberi The Blues titel jadi alasan dia diberhentikan, padahal eks pembesut Milan itu berhasil memberi tiga gelar untuk klub milik Roman Abramovich tersebut.

Dikutip dari Football Italia pelatih lain yang juga dikabarkan masuk kandidat adalah Louis van Gaal dan Quique Sanchez Flores.

Javier Zanetti, Seorang Kapten, Ayah & Fenomena Sepakbola

Milan - Rekor 757 penampilan untuk sebuah klub tak mudah dicapai seorang pesepakbola. Jika ada yang sudah mencapai itu, maka pantaslah ia disebut Legenda Hidup klub tersebut. Salah satunya Javier Aldemar Zanetti.

Terhitung sejak kedatangannya dari Banfield pada tahun 1995, Zanetti sudah mengumpulkan penampilan sebanyak itu bagi Inter di berbagai kompetisi. Ia melebihi pencapaian dua legenda lainnya, Giuseppe Bergomi dan juga Giacinto Facchetti.

Tentunya ini adalah pencapaian yang luar biasa bagi Zanetti yang merupakan pemain asing di Inter dan dia membuktikan jika faktor umur bukanlah penghalang bagi seorang pemain untuk tetap bermain di level top.

Di umurnya yang sudah menginjak 38 tahun, Zanetti masih jadi pilihan utama. Stamina dan determinasinya menunjukkan sepertinya Zanetti masih berusia 10 tahun lebih muda.

Dengan ban kapten yang masih melingkar di lengannya hingga sekarang dan segala prestasi yang telah diberikannya, termasuk tiga gelar di musim 2010, tak pelak Zanetti kini sudah sahih disebut Legenda Hidup Nerazzurri.

Berbagai pelatih yang telah menangani Zanetti dan mereka punya kesan manis mengenai pesepakbola asal Argentina itu.

Roy Hodgson (1995-1997, 1999)

Saya senang berkesempatan untuk memberi selamat kepada Javier atas rekornya itu, melampaui penampilanya Beppe Bergomi di Inter. Dan saya beruntung bisa bekerja sama dengan dua legenda Nerazzurri itu.

Luigi Simoni (1997-1998)

Hari ini kami merayakan bersamamu rekor yang telah kau pecahkan di Inter lebih dari pemain lain. Dan saya bisa katan jujur bagi saya kamu adalah fenomena sebenarnya di dunia sepakbola.

Kapten di dalam dan luar lapangan. Kamu masih muda namun kamu mengikuti contoh yang benar; Kamu masih muda namun kamu adalah orang bersahaja dan tak pernah menyerah serta selalu mau belajar. Lalu kamu menjadi pesepakbola yang lebih baik; Menjadi seorang pria, suami, ayah; menjadi simbol tim - dan bukan hanya tim saja.

Hector Cuper (2001-2003)

Javier Zanetti adalah salah satu pesepakbola profesional yang pernah saya latih. Dia sangat berdedikasi, jujur, pekerja keras dan seorang yang bertanggung jawab. Profesional dalam melayani tim dan saya tidak berbicara mengenai dia sebagai pemain namun sebagai seorang profesional dalam sebuah grup.

Roberto Mancini (2004-2008)

Saya berkesempatan untuk menghadap Pupi sebagai pemain dan dia sangat membuat saya terkesan, walaupun masih muda dan seorang pemain asing, dia bermain dengan intesitas dan kualitas.

Lalu saya sangat beruntung bisa melatihnya di Inter dan tanpa ragu saya katakan setiap pelatih di dunia pasti sangat ingin mempunyai pemain seperti dia, karena profesionalismenya dan kualitas yang dia tunjukkan di lapangan dan karena ia bisa bermain di setiap posisi kecuali kiper.

Jose Mourinho (2008-2010)

Bagiku Zanetti mewakili sebuah kebahagiaan dalam hidup, kebahagiaan menjadikan sepakbola sebagai pekerjaan dalam hidupku. Dia awalah senyuman, semangat hidup, semangat berlatih, pembangkit semangat untuk semua orang yang bekerja dengannya.

Bagiku Javier Zanetti adalah segalanya dan dia akan jadi teman sepanjang hidupku.

Dari itu semua dan jalan panjangnya sebagai pesepakbola. Tapi menjadi pelatihnya selama dua musim yang luar biasa dalam kariernya, ini bukan tempatku untuk berbicara tentang seorang pria yang telah menulis jalan hidupnya sendiri yang begitu luar biasa. Aku hanya ingin mengatakan terima kasih untuk segalanya, terima kasih karena kau telah memberiku sedikit ruang dalam ceritamu.

Momen yang paling membahagiakan adalah saat kita berpelukan di tengah Santiago Bernabeu. Itu tidak akan jadi yang terakhir namun itu adalah yang paling berkesan selama dua tahun kebersamaan kita.

Mungkin suatu hari bakal ada yang memecahkan rekor Zanetti, namun hanya ada satu Zanetti.

Leonardo (2010-2011)

Well done, Pupi! Kapten telah membuat rekor baru lagi, yang membuat itu seperti terlihat biasa saja. Bagi orang lain itu akan jadi sesuatu yang luar biasa. Tapi dalam hal ini, ini jadi konsekuensi normal dari karier yang telah dia bangun dengan kerja keras.

Bagaimana kau bisa membicarakan seorang kapten tanpa menyalutinya? Dan sekali lagi angka-angka ini tidak bisa menjelaskan apa yang telah dia persembahkan untuk Inter dan dunia sepakbola.

Delio Rossi Bantah Rumor Inter Milan

Menyusul hasil buruk yang diraih Inter Milan sejauh ini, muncul spekulasi akan ada pergantian pelatih dalam waktu dekat.

Delio Rossi masuk dalam bursa kandidat untuk menggantikan Gian Piero Gasperini, pelatih Inter Milan sekarang ini.

Kabar yang beredar di kalangan media Italia juga menyebutkan bahwa Inter Milan sudah melakukan pendekatan dengan Delio Rossi untuk posisi tersebut.

Namun Delio Rossi menampik spekulasi itu dan menyatakan sejauh ini tidak ada pihak mana pun yang menghubunginya.

"Saya tak pernah dikontak oleh Inter Milan," katanya, Rabu (21/9).

"Saya tidak sedang melakukan pilihan, karena proposal yang tepat belum datang di meja saya," tandasnya.

Marco Branca Merapat Ke Manchester City?

Keterpurukan Inter musim ini dispekulasikan tidak hanya akan membuat Gian Piero Gasperini tersingkir dari kursi kepelatihan, tetapi posisi Marco Branca sebagai direktur olahraga pun terancam.

Branca disebut bakal didepak karena merupakan sosok di balik penunjukkan Gasperini sebagai pelatih di Giuseppe Meazza.

Hasil negatif yang diraih Il Biscione bersama Gasperini diyakini akan berdampak pada memburuknya hubungan antara mantan striker Middlesbrough itu dengan presiden Massimo Moratti.

Meski demikian, diprediksi pula jika Branca tidak akan lama menganggur karena dia bakal disambar manajemen Manchester City untuk mengisi pos kepala eksekutif menggantikan Garry Cook.

Prediksi ini diperkuat oleh keinginan pelatih Roberto Mancini yang dipercaya pernah meminta manajemen klub mendatangkan Branca ke Eastlands.

Gasperini Kini di Ujung Tanduk

Novara - Kekalahan Inter dari Novara nampaknya akan jadi akhir petualangan Gian Piero Gasperini di Inter Milan. Kini si pria berambut putih itu tak lama lagi akan menerima surat PHK dari Massimo Moratti.

Hasil 1-3 dari Stadio Silvio Piola, Rabu (21/9/2011) dinihari WIB, jadi kekalahan kedua Inter dari tiga laga awal di Seri A musim ini. Ini seperti mengulangi pencapaian buruk Nerazzuri di musim 1983/1984 sebagaimana dicatat Opta.

Ditambah dua kekalahan, masing-masing di Super Italia dan Liga Champions, maka Gasperini belum sekalipun membawa Inter meraih kemenangan.

Tentunya ini bukan sinyalemen bagus bagi Inter yang musim ini menargetkan Scudetto serta berjaya di kompetisi Eropa.

Setelah belakangan selalu membela Gasperini, kini sepertinya Moratti sudah mulai habis kesabarannya dan segera akan memutuskan nasib Gasperini dalam 24 jam ke depan.

"Bisakah Gasperini memegang tim ini? Sesudah laga ini, aku katakan tidak bisa," keluh Moratti seperti dilansir Mediaset.

"Aku akan mengambil keputusan dalam waktu semalam," tutupnya.

Massimo Moratti Adu Mulut Dengan Fans Novara

Setelah Inter Milan secara mengejutkan ditekuk Novara 3-1, presiden I Nerazzurri Massimo Moratti terlibat dalam sebuah episode perang mulut dengan fans tuan rumah.

Moratti menyaksikan langsung pasukan La Beneamata terkapar untuk kali kedua dalam tiga laga terakhir Serie A Italia.

Ketika berada di tribun Stadio Silvio Piola, Moratti terlihat beradu argumen dengan seorang fans Novara yang terus meneriakinya melarikan diri.


Moratti membalas: "Saya di sini dan tidak akan lari. Mengapa saya harus lari? Saya tahu Anda (Novara) lebih superior, tidak ada yang mengatakan sebaliknya."

Kekalahan Inter membuat nasib pelatih Gian Piero Gasperini berada di ujung tanduk. Beberapa sumber menyebutkan nama Claudio Ranieri dan Delio Rossi sebagai calon pengganti. Sumber lainnya menyebut dua mantan pemain yaitu Roberto Baggio dan Luis Figo.

Javier Zanetti: Gian Piero Gasperini Bungkam

Kapten Inter Milan Javier Zanetti mengungkapkan skuad I Nerazzurri sama sekali belum mendengar suara pelatih Gian Piero Gasperini pasca kekalahan 3-1 dari Novara.

"Situasi klub sedang sulit. Para pemain memiliki tekad kuat untuk bangkit, tetapi gagal mewujudkannya di tengah lapangan," kata Zanetti.

"Kami berkorban banyak dengan berlatih keras, sayang hasilnya belum terlihat."

"Apa yang akan kami lakukan? Bekerja keras, berlatih dan mencari solusi bersama-sama keluar dari tren negatif ini."

"Gasperini? Dia belum berbicara pada kami, tetapi saya yakin dia akan melakukannya ketika situasi mulai mendingin."

Il Capitano kemudian meminta fans untuk memahami situasi klub saat ini.

"18 bulan lalu kami menjadi kekuatan sepakbola di Italia bahkan Eropa," tambah Zanetti.

"Tetapi fans harus mengerti inilah sepakbola dan momen serba salah yang dialami Inter sekarang bisa menimpa klub manapun."

Gasperini Merasa Seperti Dapat Tamparan Besar

Novara - Inter Milan belum juga bisa menang. Di partai teranyar Nerazzurri dipukul tim promosi Novara 1-3, sebuah hasil yang seperti sebuah tamparan untuk Gian Piero Gasperini.

Melawat ke Stadio Silvio Piola, Rabu (21/9/2011) dinihari WIB, Inter di bawah arahan Gasperini lagi-lagi gagal menunjukkan penampilan mengesankan. Inter pun pulang dengan kekalahan.

"Ini adalah sebuah penampilan buruk. Kami pikir kami bisa bermain dengan lebih ofensif, tapi setiap kali kamu menekan ke depan, kami kecolongan di belakang," keluh Gasperini di Football Italia.

Hasil itu membuat La Beneamata baru meraih satu hasil imbang dan dua kekalahan di Seri A. Catatan memburuk jika menghitung hasil di Liga Champions di mana Inter juga dipermalukan 0-1 oleh Trabzonspor.

"Para pemain kecewa, seperti juga yang lainnya, karena kami yakin kami bisa tampil bagus dan mulai membenahi musim kami," sesal Gasperini.

Setelah kekalahan tersebut, nasib Gasperini di kursi pelatih Inter kian berada di ujung tanduk. Apalagi Presiden Inter Massimo Moratti sudah memberi indikasi akan semalaman memikirkan masa depan si pelatih.

Gasperini tahu benar posisinya semakin rawan, meski ia memilih tidak mau terganggu dengan pernyataan sang presiden. Ia lebih terganggu dengan buruknya penampilan Inter di lapangan.

"Saya hanya fokus ke pekerjaan saya sendiri. (Hasil) Ini adalah sebuah tamparan besar di wajah. Jelas ada beberapa masalah. Saat ini saya berada di situasi sulit dan saya harus bangkit," lugasnya.

Direktur Inter: Saya Merindukan Mourinho dan Eto'o

Written By Japrax on Jumat, 16 September 2011 | 01.28

Bola.net - Tampilan buruk Inter Milan di dua laga terakhir, yakni kalah 4-3 dari Palermo di Serie A dan 0-1 dari Trabzonspor di Liga Champions dini hari tadi, membuat salah satu Direktur mereka yang bernama Marco Tronchetti Provera terusik hatinya.
Salah satu orang senior di jajaran direksi klub berjuluk La Beneamata tersebut mengaku merindukan masa-masa ketika masih ada Jose Mourinho dan Samuel Eto'o di Giuseppe Meazza.
Kini dua orang yang ia sebut itu sudah tidak lagi ada di sana, The Special One pergi ke Santiago Bernabeu sejak 2010 kemarin, sementara Eto'o baru saja ke Rusia bersama Anzhi Makhachkala di bursa musim panas kemarin.

"Inter bersama Mourinho adalah pengalaman dalam musim-musim yang menakjubkan, hal itu akan tetap ada di sejarah kami dan tak akan bisa dihapus," ucap Marco kepada Goal.com Italia.
"Jujur saja saya merindukan Mourinho dan Eto'o. Apakah suatu hari nanti Mou mungkin kembali kemari? Tidak ada hal yang bisa diabaikan dalam sepakbola,"

Meski begitu pria berambut putih itu menyebut posisi allenatore Gian Piero Gasperini masih bakal aman, "Saya tidak berpikir posisi Gasperini beresiko hanya setelah satu permainan dari sebuah musim kompetisi."
"Kabar baiknya adalah masih ada pemain bagus yang membentuk struktur tim yang baru. Sekarang kami harus menempatkan tim terbaik di lapangan sehingga kami dapat memberikan hasil yang baik, "
Setelah ini Inter sudah dinanti tugas berat lain, di Serie A pekan ini mereka dipertemukan dengan AS Roma, meski sama-sama belum meyakinkan namun secara tradisi duel ini akan selalu sulit bagi Si Ular dan Si Serigala.

Menanti Kebangkitan La Beneamata

Milan - Inter Milan masih saja "tertidur" saat kompetisi musim ini sudah dimulai. Bisakah La Beneamata bangkit dalam big match melawan AS Roma, akhir pekan ini?

Sejauh ini, Inter belum pernah merasakan kemenangan di bawah asuhan pelatih baru Gian Piero Gasperini. Bahkan, klub tetangga AC Milan ini selalu kalah di semua laga resmi mereka.

Nerazzurri kalah 1-2 dari AC Milan di ajang Piala Super Italia. Mereka juga dikalahkan Palermo 3-4 di pekan pembuka Seri A. Saat menjamu Trabzonspor di Liga Champions, mereka juga takluk 0-1.

"Ini adalah saat-saat sulit, kami mengalami dua kekalahan yang tidak kami harapkan dan kami tidak layak mendapatkannya," cetus kapten Javier Zanetti yang dilansir Football Italia.

"Saya harap fans mengerti. Itulah cara kita semua akan keluar dari ini bersama-sama. Kita berdiri bersama-sama saat kita menang, dan kita harus melakukan hal yang sama sekarang," tambahnya.

Akhir pekan ini, Inter punya peluang untuk bangkit. Caranya? Merebut kemenangan atas Roma di San Siro.

"Melawan Roma selalu sulit, tapi kami akan mencoba menghadapi laga ini sebaik mungkin," kata Zanetti.

"Satu-satunya hal yang harus kami lakukan adalah bekerja dan berkonsentrasi pada pertandingan hari Sabtu melawan Giallorossi," bebernya.

Pendapat serupa diungkapkan oleh Andrea Ranocchia. Dia berharap hasil buruk di awal musim tak membuat timnya patah arang.

"Tim seperti Inter tak boleh membiarkan dirinya depresi. Kami akan segera bangkit," ujar Ranocchia.

"Musim baru saja dimulai, kami sudah melupakan dua hasil buruk itu. Kami bisa membalikkan keadaan saat melawan Roma akhir pekan ini," yakinnya.

Javier Zanetti: Lupakan Trabzonspor, Fokus Roma

Inter bisa dikatakan dalam krisis. Tiga laga kompetitif mereka berakhir dengan kekalahan.

Setelah kalah dari Milan di Piala Super Coppa Italia, Inter takluk di kandang Palermo di pekan pertama Serie A. Dinihari tadi, giliran Trabzonspor yang menundukkan Il Nerazzurri.

Dan kini Inter menghadapi ujian yang tak kalah berat di pertandingan berikutnya, yaitu tim ibukota Roma melawat ke Giuseppe Meazza akhir pekan ini.

Dengan target minimal tidak lagi kehilangan angka, Javier Zanetti menekankan penting Inter untuk bisa menjaga konsentrasi.

"Bermain melawan Roma selalu menjadi ujian yang sulit, tapi kami akan berusaha menghadapi laga ini dengan cara terbaik," tegas Zanetti kepada Inter Channel.

"Yang harus kami lakukan sekarang adalah bekerja keras dan fokus pada hari Sabtu untuk laga menghadapi Giallorossi," paparnya.

Inter & Roma Berebut Kemenangan Perdana

Milan - Inter Milan dan AS Roma sama-sama belum pernah menang di pertandingan resmi musim ini. Mereka akan bertemu di San Siro akhir pekan ini dan berebut kemenangan pertama.

Inter dan Roma sama-sama ditukangi allenatore anyar pada musim ini. Inter merekrut Gian Piero Gasperini, sedangkan Roma mempekerjakan Luis Enrique. Gasperini dan Enrique sama-sama belum punya pengalaman menangani klub besar.

Dua pelatih tersebut juga sama-sama punya rapor buruk di awal kiprahnya bersama klub masing-masing. Gasperini masih nihil kemenangan bersama Inter, begitu juga dengan Enrique di Roma.

Nerazzurri selalu kalah dalam tiga laga resmi pada awal musim ini. Mereka kalah 1-2 dari AC Milan di ajang Piala Super Italia, menyerah 3-4 dari Palermo di Seri A, dan keok 0-1 dari Trabzonspor di Liga Champions.

Nasib Giallorossi tak beda jauh. Mereka cuma bermain imbang 1-1 dan kalah 0-1 saat bertemu Slovan Bratislava di play-off Liga Europa dan kalah 1-2 dari Cagliari di Seri A.

Dua tim terluka ini akan bertemu di San Siro, akhir pekan ini. Yang keluar sebagai pemenang punya kans untuk bangkit dan kembali ke jalur kemenangan, sementara yang kalah akan makin terpuruk.

Sementara itu, duel seru lainnya akan tersaji di San Paolo. Di sana, Napoli akan menjamu juara bertahan AC Milan.

Kedua tim baru saja menorehkan hasil lumayan bagus di ajang Liga Champions. Napoli sukses menahan tuan rumah Manchester City, sementara Milan juga selamat dari kekalahan saat bertandang ke markas Barcelona.

Dengan modal tersebut, pertemuan keduanya menjanjikan pertempuran sengit di atas lapangan. Partenopei berusaha merebut kemenangan kedua di Seri A, sedangkan Rossoneri ingin meraih yang pertama.

Sang pemuncak klasemen Juventus berpeluang besar mempertahankan posisinya akhir pekan ini. 'Nyonya Tua' diperkirakan tak akan kesulitan untuk membawa pulang tiga poin dari kandang Siena.

Awal Musim Terburuk Inter Sejak 1921

Jakarta - Bersama Gian Piero Gasperini, Inter Milan menelan tiga kekalahan dalam tiga laga kompetitif awal musim. Ini jadi catatan start terburuk Nerazzurri sejak musim 1921/1922 silam.

Inter mengawali musim 2011/12 di China saat menghadapi AC Milan dalam laga Piala Super Italia. Javier Zanetti cs saat itu unggul lebih dulu melalui Wesley Sneider, namun di akhir laga mereka dipaksa takluk 1-2 karena Rossoneri berhasil membalas dua kali melalui Kevin Prince Boateng dan Zlatan Ibrahimovic.

Kekalahan kembali mendatangi Inter saat mereka menjalani pekan pertama Seri A. Melawat ke Palermo, La Beneamata dipaksa menyerah dengan skor ketat 3-4.

Dan dinihari tadi Inter menelan kekalahan ketiganya secara beruntun. Menghadapi Trabzonspor di Giuseppe Meazza, Inter takluk dengan sksor tipis 0-1.

Dikutip dari Football Italia, tiga kekalahan beruntun di awal musim merupakan catatan terburuk Inter sejak musim 1921/22. Ketika itu mereka tunduk di lima laga perdananya masing-masing saat menghadapi Legnano, Torino, Pisa, Modena dan Alessandria.

Sementara terakhir kali Inter menelan tiga kekalahan beruntun untuk ajang kompetitif adalah pada April 2000. Ketika itu mereka menyerah di tangan Udinese dan Juventus pada kompetisi Liga Italia serta takluk atas Lazio di Coppa Italia.

Menghitung Hari Gian Piero Gasperini

Inter Milan belum menunjukkan kelasnya sebagai raksasa Italia sejauh ini. Hasil-hasil tak mengesankan terus ditorehkan.

Setelah kalah di kandang Palermo dengan skor 4-3, Inter Milan juga takluk di kandang sendiri, saat menjamu Trabzonspor di fase grup Liga Champions dengan skor 1-0.

Dua laga tersebut menjadi dua laga kompetitif resmi yang dijalani Inter Milan di musim ini. Mengecewakan, bukan begitu?

Secara statistik, Inter Milan juga tak bisa menampilkan penampilan mengesankan sejak musim panas. Hanya laga melawan Celtic di ujicoba pada 30 Juli yang berakhir dengan kemenangan, dengan skor 2-0. Setelahnya, banyak laga yang diakhiri dengan hasil seri dan kalah.

Satu kemenangan lain sempat dimenangi Inter Milan, yaitu di turnamen segitiga bersama AC Milan dan Juventus. Inter menang melawan AC Milan dengan skor 1-0 selama 45 menit, dan mengungguli Juventus lewat drama adu penalti tapi gagal memenangi turnamen tersebut.

Dari semua laga yang sudah dijalani sejak Juli, ada satu kesamaan di dalamnya. Gian Piero Gasperini menjadi orang dibalik layar yang mengarsiteki Inter Milan sejauh ini.

Dengan performa tersebut, Gasperini pun menjadi sosok paling disorot, mulai dari caranya memasang strategi, formasi hingga kebijakan transfer pemain.

Formasi 3-4-3 menjadi kesukaan Gasperini. Tapi di Inter Milan, formasi itu tak berjalan dengan baik. Gawang Julio Cesar jadi rentan kebobolan. Inter juga banyak kalah.

Gasperini juga sudah diminta untuk mengganti formasi dengan yang lebih aman dan nyaman, juga tak terlalu berisiko. Namun sepertinya permintaan tersebut tak digubrisnya.

Sementara untuk transfer pemain, Gasperini mungkin tak bisa berbuat banyak karena pihak klub sedang kesulitan uang, setidaknya begitu dalih mereka. Alhasil, pemain terbaik mereka pun dijual, seperti Samuel Eto'o dan hanya mendatangkan striker yang tak lagi muda dan produktif, Diego Forlan, sebagai pengganti.

Apa pun itu, Gasperini kini sudah mendapat sorotan tajam. Bahkan kabarnya manajemen klub sudah mulai mempertimbangkan untuk mencari pengganti Gasperini.

Meski belum ada konfirmasi akan hal ini, Gasperini sepertinya sudah harus membuat alasan bagi manajemen Inter Milan untuk tidak memecatnya, dengan memberikan hasil mengesankan setidaknya di tiga laga berikutnya. Jika tidak, mungkin dia akan bernasib sama seperti Rafael Benitez, atau bahkan lebih parah lagi.

Massimo Moratti Masih Dukung Gian Piero Gasperini

Kekalahan beruntun yang diderita Inter Milan di tangan Gian Piero Gasperini belum melunturkan kepercayaan presiden klub, Massimo Moratti, terhadap suksesor Leonardo itu.
Dari tiga laga resmi yang sudah dilakoni bersama Gasperini, Sang Ular Raksasa selalu menuai kekalahan.
Diawali dengan melawan AC Milan (kalah 2-1) pada pergelaran Supercoppa Italiana akhir Agustus silam, kemudian dari Palermo (4-3) di lakon pembuka Serie A weekend lalu, dan terakhir dibungkam Trabzonspor 1-0 di arena Liga Champions, Kamis (15/9) dinihari WIB.
Moratti masih dapat memaklumi hasil-hasil negatif ini mengingat pasukan I Nerazzurri masih beradaptasi dengan sang allenatore anyar. Apalagi, di laga kontra Trabzonspor Gasperini kembali memodifikasi formasi andalan yang semula 3-4-3 menjadi 4-3-3.
"Untuk saat ini, saya pikir ini hanya masalah waktu saja karena taktik pertandingan telah berubah," kata sang presiden dilansir Football Italia.
"Saya pikir tim menunjukkan keterbatasan dan agak tertahan tadi malam. Ini memang laga penting, tapi hal-hal seperti ini bisa terjadi."
"Haruskah tim bermain dengan empat pemain di lini belakang? Ya," ujar Moratti tanda setuju terhadap perubahan pakem timnya ke pola awal di garis pertahanan.

Gian Piero Gasperini: Inter Bakal Bangkit

Pelatih Inter Milan Gian Piero Gasperini kekalahan yang telah dialami dari Trabzonspor tidak akan membuat skuadnya menjadi terpuruk. Ia menegaskan anak asuhnya akan mampu bangkit.

"Meski kekalahan ini telah menyisakan banyak penyesalan, tim ini sudah berupaya besar dan secara individu mereka telah tampil bagus. Kami hanya kurang beruntung saja," ujar Gasperini kepada Sky Sport Italia.
"Reaksinya yang muncul ada kemarahan dan berupaya untuk bangkit kembali karena ini adalah skuad yang kuat dan mereka telah menunjukkannya."

"Dalam sepakbola momentum-momentum semacam ini bisa saja terjadi dan kekalahan ini harusnya bisa melecut kami semua untuk bisa kembali ke jalur kemenangan."

Persaudaraan Sampai Mati Interisti-Laziale (Gamellaggio Lazio-Inter)

Written By Japrax on Selasa, 13 September 2011 | 20.20


Sebuah Catatan Panjang Sejarah dan Kejadian Dramatis

Stadio Giuseppe Meazza, San Siro, Milano, 23 April 2011. Menjelang laga Inter vs Lazio di pekan-pekan terakhir yang krusial di Serie A musim 2011/2012. Lazio sedang bersaing keras dengan Udinese untuk mengamankan tempat di UCL dan Inter sedang berjuang keras menghidupkan asa scudetto yang hampir pasti diraih AC Milan. Ketika kedua tim memasuki lapangan, dari salah satu bagian stadion puluhan flare warna biru langit dinyalakan, disusul pekikan ribuan orang: “A Roma Ce Solo Lazio” atau “Di Kota Roma Hanya Ada Lazio”. Kita yang hanya menyaksikan lewat televisi tentu mengira itu adalah ulah suporter Lazio. Sebenarnya bukan, flare dan teriakan itu justru dilakukan dari Curva Nord Stadio GM oleh puluhan ribu Interisti yang tergabung dalam Boys SAN dan beberapa kelompok ultras Inter lainnya. Baru setelah itu dari sisi Irriducibili Lazio dinyalakan flare warna biru gelap (warna Inter) dan para Laziali meneriakkan “Forza Inter Ale”. Itu adalah ritual selamat datang dari Interisti untuk Laziali dan tanda persahabatan Laziali bagi Interisti. Ritual itu sudah berusia lebih dari satu dekade sejak kedua kelompok suporter ultras menjalin gamellaggio (twinning, persaudaraan). Di Stadio Olimpico, ritual dilakukan sebaliknya. Irriducibili Lazio menyalakan flare biru gelap disertai teriakan “Forza Inter Ale” dan dibalas oleh Interisti dengan flare biru langit dan teriakan “A Roma Ce Solo Lazio.”

Mengapa kita bersahabat dengan Lazio? Karena sama-sama menempati Curva Nord? Dan mengapa Lazio berseteru dengan AS Roma? Karena menghuni kota yang sama? Itu memang salah satu alasan tetapi latar belakang sesungguhnya adalah sebuah sejarah panjang dan kompleks, dimulai bahkan dari saat awal eksistensi kedua klub itu.

Takdir Mulai Saat Kelahiran

SS Lazio dibentuk tahun 1900 oleh para politisi dan usahawan berhaluan politik kanan dan anti-Yahudi serta berbasis pendukung kaum terpelajar dan kalangan menengah-atas Roma. Kelompok berhaluan serupa juga lah yang mendirikan Inter saat melepaskan diri dari AC Milan tahun 1908.

Saat diktator fasis Benito Mussolini berkuasa di Italia, dia memerintahkan semua klub di kota Roma di-merger menjadi AS Roma tahun 1927. Semua mematuhi, kecuali SS Lazio yang menentang dan tetap berdiri sendiri. AS Roma dikuasai oleh golongan kiri dan didukung oleh kelas buruh dan masyarakat Yahudi (kelompok serupa yang mendukung AC Milan). Di kota Milan, Mussolini melakukan hal yang sama, dan Inter melakukan penentangan yang sama sehingga sementara harus berganti nama menjadi Ambrosiana Milano. Sejarah awal ini telah menyemai ikatan antara SS Lazio dan Inter serta menempatkan AS Roma dan AC Milan pada pihak yang berseberangan. Lokasi yang sama di Curva Nord (Lazio dan Inter) dan di Curva Sud (AS Roma dan AC Milan) makin mempertajam perbedaan ini. Dan, tentu saja, faktor lokasi di Kota yang sama menjadikan persaingan Lazio-Roma menjadi semakin memanas. Lazio dan pendukungnya merasa sebagai yang pertama di Roma, sedangkan AS Roma menganggap dirinya satu-satunya klub yang menyandang nama kota.

Persaingan ini sedemikian panasnya, sehingga Derby della Capitale (SS Lazio vs AS Roma) dinobatkan sebagai derbi paling panas di Italia bahkan di Eropa, melebihi Derby della Madoninna (Inter vs Milan), Derby Manchester (MU vs Manchester City) bahkan mengungguli El Classico (Barcelona vs Madrid). Kalau Interisti dan Milanisti hanya panas di dunia maya tetapi bersahabat di dunia nyata, Laziali dan Romanisti berseteru dalam arti sebenarnya, di dunia maya maupun di dunia nyata. Hampir tak pernah terjadi Derby della Capitale tanpa kerusuhan. Tercatat beberapa nyawa melayang dan ratusan orang telah terluka karena derbi ini. Derby della Capitale adalah “neraka” sepakbola Italia.

Gamellaggio Lazio-Inter

Persaudaraan ini terjadi sepanjang sejarah. Tak pernah ada catatan insiden antara Laziali dan Interisti. Kesamaan aliran politik dan basis pendukung membuat kedua kelompok suporter ini selalu rukun. Gamellaggio secara formal terjadi saat kedua suporter bertemu dalam final UEFA Cup tahun 1998 di Paris yang dimenangkan Inter dengan 3-0. Sikap ksatria Irriducibili Lazio dan sikap simpatik Boys SAN Inter membuat kedua suporter mendapatkan penghargaan fair play dari UEFA. Dan saat itu tercapailah kesepakatan persaudaraan antara Laziali dan Interisti yang makin menguat hingga hari ini.

Inilah beberapa kejadian unik yang menunjukkan eratnya gamellagio Lazio-Inter:

Nasib Tragis Zaccheroni, 5 Mei 2002

Pada pertandingan giornata 34 musim 2001/2002 tanggal (match terakhir, karena saat itu Serie A hanya berisi 18 tim), terjadi peristiwa yang unik di Stadio Olimpico pada laga Lazio vs Inter. Saat itu Inter di ambang juara karena cukup dengan mengalahkan Lazio maka mereka akan meraih scudetto mengungguli Juventus. Maka Laziali di Stadio Olimpico, dimotori Irriducubili Lazio mendukung Inter habis-habisan dan meminta Lazio kalah, agar yang mendapatkan scudetto Inter, rival Lazio: Juventus. Sayangnya malam itu para punggawa Nerazzurri gagal meraih scudetto yang sudah di depan mata, kalah 2-4 dari Biancoceleste. Dan Juventus merebut scudetto dengan 71 poin, diikuti Roma dengan 70 poin. Inter sendiri di posisi ketiga dengan 69 poin. Akibat kejadian ini, Irriducibili Lazio mendemo manajemen Lazio dan meminta allenatore Lazio, Alberto Zaccheroni dipecat. Zaccheroni pun akhirnya mengundurkan diri. Dia dimusuhi Laziali justru karena timnya memenangkan laga. Ironis, tapi itulah jiwa Irriducibili Lazio: persahabatan dan solidaritas ditempatkan di atas sepak bola itu sendiri.

Stadio Giuseppe Meazza Tanpa Banner dan Flare, 5 Desember 2007

Pada tanggal 11 November 2007, seorang DJ terkenal di kota Roma, Gabriele Sandri, seorang pendukung ultras Lazio, menjadi korban tak berdosa dalam kerusuhan antara sekelompok suporter anarkis Juventus dan kepolisian kota Roma. Sandri tertembak di bagian belakang kepalanya oleh polisi. Kerusuhan pun meledak, menuntut keadilan. Tidak hanya karena para Laziali menyerang kantor polisi Roma, tapi juga di Milano, oleh Interisti menyerang kantor polisi Milano menunjukkan solidaritasnya. Untuk menghormati Sandri, Inter menunda pertandingan Inter vs Lazio di Stadio Giuseppe Meazza yang seharusnya digelar 14 November menjadi tanggal 5 Desember 2007. Saat pertandingan berlangsung, Boys SAN Inter memprakarsai mengheningkan cipta selama 5 menit di stadion untuk menghormati Sandri. Dan malam itu, di Curva Nord Giuseppe Meazza, tempat para Interisti, sama sekali tidak terlihat sepotong pun spanduk, banner ataupun sebuah flare pun yang mereka nyalakan. Kelompok-kelompok ultras Inter hanya membentangkan sebuah spanduk besar dengan tulisan warna biru langit berlatar belakang biru gelap bertuliskan: “Gabriele Sandri, Kau Akan Selalu Berada di Hati Kami”.

Korban Berikutnya, Jersey No 12 SS Lazio, Minggu, 2 Mei 2010

Stadio Olimpico Roma dipenuhi pendukung Lazio dan Inter yang menantikan pertandingan Serie A giornata 36 musim 2009/2010. Pertandingan ini sangat menentukan bagi kedua tim. Bagi inter, memenangi pertandingan ini akan mempermudah meraih Scudetto, dan akan mengambil alih poisisi cappolista dari AS Roma yang sementara unggul 1 poin. Bagi Lazio memenangi pertandingan ini akan lebih mengamankan diri dari kemungkinan degradasi ke Serie B, karena saat itu Lazio berada di posisi 17 dan hanya terpaut 4 poin dari zona merah.

Ritual gamellagio seperti pada pembuka tulisan ini pun dilakukan. Itu hal biasa. Yang luar biasa adalah banyak bendera Inter dan spanduk-spanduk pemberi semangat bagi Inter dikibarkan oleh Irriducibili Lazio. Yang paling mencengangkan tentu saja sebuah spanduk para Laziali yang ditujukkan kepada para pemain Lazio sendiri: "Kalau sampai menit ke 80 Lazio unggul, kami akan masuk ke lapangan!" Spanduk ini disita polisi tak lama kemudian tetapi muncul spanduk-spanduk lain yang tak kalah mengerikan: "Nando (maksudnya Fernando Muslera), biarkan bola melewatimu, dan kami akan tetap menyayangimu." "Zarate, satu gol saja kau cetak, kami paketkan kau ke Buenos Aires." Rupa-rupanya para pendukung Lazio ingin agar Inter mengalahkan timnya malam itu, untuk melicinkan jalan Inter menuju scudetto. Mereka lebih memilih risiko Lazio turun ke Serie B daripada Roma yang memperoleh scudetto.

Suasana pertandingan pun menjadi sangat aneh. Lazio sama sekali tidak memperoleh dukungan fans-nya sendiri walaupun bermain di Olimpico. Sebaliknya Inter sebagai tamu justru memperoleh dukungan luar biasa. Setiap kali pemain Inter menguasai bola, para Laziali berteriak, "Biarkan mereka lewat!" Malam itu portiere Lazio, Fernando Muslera, bermain sangat gemilang. Tak kurang dari 10 penyelamatan luar biasa dilakukannya. Tiap kali Muslera menggagalkan gol Inter, teriakan cemoohan pun berkumandang ke arahnya. Akhirnya pada injury time babak pertama, tandukan Walter Samuel mengubah skor menjadi 0-1. Stadion bergelegar dan muncul spanduk ejekan dari Laziali bertuliskan, "Oh, Noooo Roma!" dan, "Scudetto Game Over, Roma!"

Di babak kedua mental pemain Lazio (kecuali Muslera yang tetap bermain gemilang) pun runtuh. Kesalahan demi kesalahan dilakukan dan membuat Thiago Motta menggenapkan kemenangan Inter menjadi 0-2 di menit ke 70. Di akhir pertandingan, para pemain Lazio meninggalkan pertandingan dengan sedih dan marah karena merasa “dihianati” Laziali. Presiden Roma, Rosella Sensi mengecam habis-habisan ulah Laziali tersebut. Jose Mourinho hanya berkomentar pendek, "Saya belum pernah menyaksikan yang seperti ini." Asisten pelatih Lazio mengakui bahwa anak asuhnya sangat terpengaruh oleh suasana stadion dan tidak bisa menampilkan performa terbaiknya.

Inter akhirnya merebut scudetto 2009/2010 dengan keunggulan 2 poin atas AS Roma. Syukurlah, Lazio mampu memenangi 2 laga sisa, terhindar degradasi dan menempati posisi akhir klasemen di urutan ke 12. Insiden ini membuat presiden Lazio, Claudio Lotito marah besar. Tahun 2003 Lazio memutuskan untuk mengistirahatkan jersey no. 12 sebagai penghormatan pada Irriducibili Lazio sebagai "pemain ke 12". Tetapi karena kejadian ini (ditambah lagi dengan kehadiran politisi lawan Lotito di tribun Irriducibili Lazio beberapa pertandingan sebelumnya) maka jersey no. 12 ditarik kembali dari peristirahatannya dan pada musim 2010/2011 dipakai oleh portiere kedua Lazio, Tomasso Berni. Musim 2011/2012 jersey no 12 dipakai oleh difensore Marius Stankevicius. Satu bukti lagi, bahwa bagi Irriducibili Lazio, persahabatan dan solidaritas adalah yang terpenting.

Kawan dan Rival Bersama, Bagaimana di Indonesia?

Sejarah telah berbicara, dan akhirnya menempatkan AS Roma, AC Milan dan Juventus sebagai rival bersama Lazio dan Inter. Di Indonesia, gamellagio Lazio-Inter ini masih sangat kurang terasa. Tak jarang Laziali dan Interisti justru terlibat perdebatan panas di berbagai grup dan fanpage. Padahal di Italia, persaudaraan ini demikian erat di dunia maya dan di dunia nyata. Yang telah ada adalah menempatkan AS Roma, AC Milan dan Juventus sebagai rival bersama. Satu keanehan lagi di Indonesia, Milanisti dan Juventini cenderung bersahabat, sementara di Italia, mereka berdua adalah rival.

(Dari berbagai sumber: forum LaCurvaNord, LazioForever, ForzaInterForums, UltrasLazio dan IrriducibiliLazio).

Penulis asli:Galuh Lazialita Biancocelesti

Javier Zanetti: Jangan Ragukan Gian Piero Gasperini

Inter Milan gagal meraih hasil positif di laga pembuka Serie A Italia karena dikalahkan Palermo dengan skor 4-3, Senin (12/9) dini hari WIB.

Hasil tersebut tentu saja mengecewakan para loyalis I Nerazzurri yang langsung mengeluarkan keraguan terhadap kinerja mantan pelatih Genoa tersebut, tetapi il Capitano Javier Zanetti angkat bicara membela sang arsitek klub.

"Kami tidak pernah menginginkan kekalahan," buka Zanetti.

"Tetapi kami terjungkal pada sebuah pertandingan yang berjalan seru. Kami sempat mendominasi pertandingan dan sebaliknya."

"Inter tidak boleh panik. Kami tahu ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Pemain memperlihatkan determinasi tinggi untuk memperbaikinya dan bangkit kembali."

"Gasperini memiliki ide sendiri soal bagaimana sepakbola dimainkan. Pemain harus menerima dan berharap bisa beradaptasi dengan cepat dengan perubahan yang terjadi."

"Gasperini sosok pelatih pintar, dia akan mencoba beberapa hal dan berhak melakukan perubahanjika merasa adanya strategi yang tidak menguntungkan klub."

"Meragukan kapasitas Gasperini adalah hal yang harus dihindari," tandasnya.

Milito Minta Kesabaran "Fans"

MILAN, KOMPAS.com Striker Inter Milan, Diego Milito, meminta fans untuk bersabar dan tidak membandingkan tim yang ada saat ini dengan skuad era Jose Mourinho.
Inter memulai perjuangan mereka di Serie-A dengan hasil mengecewakan. Javier Zanetti dkk secara menyakitkan kalah 3-4 dari Palermo. Hasil ini tentu sangat mengecewakan bagi Inter, khususnya para pendukung mereka. Bahkan ada beberapa pendukung yang mulai menyerukan protes mereka terhadap pelatih, pemain, dan juga manajemen klub.
Milito memaklumi kemarahan fans atas kekalahan ini. Namun, dia meminta fans bersabar karena tim ini tengah beradaptasi untuk menjadi kekuatan baru.
"Tak pantas untuk memikirkan soal Inter dua tahun yang lalu. Hari ini, kami merupakan tim yang berbeda, dengan pelatih baru serta taktik baru, dan kami harus beradaptasi dengan itu," ujar Milito kepada RAI.
"Tentu butuh waktu untuk beradaptasi dengan formasi yang baru. Contohnya hari ini, (Wesley) Sneijder bermain lebih melebar dari posisi yang biasa ia tempati. Aku pikir, dia, khususnya, telah berubah posisi," sambungnya.
Ia menambahkan, "Aku sepakat kalau kami harus menguatkan tim, terutama pertahanan. Akan tetapi, ini tak cuma melibatkan bek. Kami secara naluriah ingin menang. Namun, sekarang adalah waktunya menatap ke depan dan terus berkembang."

Pemain Inter Tetap Dukung Gasperini

Milan - Taktik 3-4-3 milik Gian Piero Gasperini menuai kritik menyusul kekalahan dari Palermo. Meski begitu para pemain Inter Milan tetap mendukung sang pelatih di kursinya.

Inter harus menelan pil pahit dalam laga perdananya di Seri A kala kalah 3-4 dari Palermo di Renzo Barbera. Padahal Inter sempat unggul dua kali di laga itu.

Tentunya ini jadi catatan tak baik di awal karier Gasperini melatih Inter. Apalagi pada laga resmi sebelumnya di Super Italia, Inter juga kalah dari AC Milan.

Dari dua laga itu tentu formasi 3-4-3 kegemaran Gasperini dikritik habis karena di zaman sepakbola modern seperti sekarang, taktik "usang" seperti itu tentunya kurang berjalan.

Terlihat lini belakang Inter keteteran saat diserang lawan dan mengakibatkan empat gol bersarang di gawang Julio Cesar. Mengenai hal ini, Javier Zanetti sebagai kapten tim mengaku tim tetap percaya pada Gasperini.

"Gasperini mempunyai ide berbeda dalam memainkan sepakbola. Setiap pelatih punya itu dan itu hak mereka," tukas Zanetti di situs resmi tim.

"Kami mempunyai pelatih dengan ide baru, segalnya berubah dan kami butuh waktu untuk mengerti apa yang dia minta kepada kami," sambung Zanetti yang pada laga kemarin dipasang sebagai bek tengah.

Dilanjutkan Zanetti, selain masih dalam adaptasi dengan taktik Gasperini tersebut, pesepakbola asal Argentina itu juga yakin jika eks pelatih Genoa akan segera menemukan sentuhan terbaiknya bagi La Beneamata.

"Aku tidak berapa lama itu akan berlangsung namun semua orang di sini ingin segalanya berjalan di jalur yang benar. Skuad ini melakukan semua yang mereka bisa," tukasnya.

"Dia pelatih berintelejensia, dia tidak membuat keputusan yang merusak tim. Jika setelah beberapa laga, segalanya masih belum berjalan baik maka aku pikir Gasperini akan segela melakukan perubahan," sahutnya.

Maka Zanetti pun segera meminta rekan-rekannya untuk segera bangkit karena Inter ditunggu dua laga berat ke depan, melawan Trabzonspor di Liga Champions dan AS Roma di Seri A.

"Ini bukan awal yang kami harapkan. Kami hanya harus tetap tenang dan yakin dengan apa yang kami lakukan."

"Mari berharap kami segera bangkit karena kami punya laga di Liga Champions Rabu besok dan kami melawan Roma Sabtu besok," lugas Zanetti.

Maurizio Zamparini: Inter Kalah Akibat Ganti Pelatih

Pergantian pelatih merupakan faktor terbesar kekalahan Inter Milan 4-3 dari Palermo pada laga pembuka Serie A Italia akhir pekan lalu, demikian Maurizio Zamparini.

Gian Piero Gasperini ditunjuk menangani Inter musim ini setelah Leonardo mundur dan memilih bergabung ke Paris Saint-Germain sebagai direktur olahraga. Perubahan pelatih sebenarnya juga terjadi di kubu Palermo setelah Zamparini memecat Stefano Pioli dan mempromosikan Devis Mangia.

"Inter membayar mahal pergantian pelatih mereka," ujar bos Palermo itu kepada wartawan.

"Lebih sulit bagi tim juara untuk beradaptasi dengan level seperti ini, tapi Inter juga tidak menduga Palermo bisa tampil seperti dalam pertandingan tadi."

Pada laga berikutnya Inter sudah ditunggu AS Roma, yang juga ditundukkan Cagliari 2-1 pada laga perdana mereka.

Cambiasso: Kalah Selalu Menyakitkan

Bola.net - Gelandang Inter Milan, Esteban Cambiasso menyesalkan kekalahan timnya dari Palermo pada laga pembuka Serie A.
Inter dipaksa bertekuk lutut 4-3 dari klub asal Sicilia tersebut sekalipun Milito berhasil mencetak 2 gol dan sebiji gol dari Forlan di laga debutnya.
"Kekalahan ini sungguh menyakitkan dan seharusnya memang terasa seperti itu. Kami telah beradaptasi dengan pertandingan, kemudian Milito memainkan magisnya serta mengubah pertandingan," ucap Cambiasso kepada situs resmi klub.
"Kalah memang selalu menyakitkan, bukan hanya karena ini adalah laga pertama di awal musim. Anda tidak boleh menghadapi Palermo dengan penampilan seperti itu. Sudah jelas kami tidak senang dengan hasil ini tetapi tidak ada gunanya menangisi ini semua."
"Saya rasa pelatih mempunyai satu masalah besar dan itu karena dia hanya mempunyai sedikit waktu untuk berlatih bersama kami. Mari berharap jika masalah ini akan membuat kami tampil lebih baik di masa yang akan datang."
Tantangan Inter selanjutnya adalah menghadapi klub asal Turki Trabzonspor pada penyisihan grup B Liga Champions, Rabu (waktu setempat). (int/mac)

Ricky Alvarez Sesalkan Kekalahan Di Renzo Barbera


Dua kali Inter Milan memimpin, dua kali pula Palermo menyamakan skor sebelum unggul 4-2 di sepuluh menit akhir. Gol Diego Forlan di stoppage time pun akhirnya hanya menjadi penipis kekalahan La Beneamata (4-3) pada laga seru di Renzo Barbera, Senin (12/9) dinihari WIB.
Hasil negatif di pertandingan perdana Serie A 2011/12 ini tentunya mengecewakan semua orang di kubu runner-up musim lalu itu, tak terkecuali Ricky Alvarez, rekrutan dari Velez Sarsfield yang melakoni debut liga bersama Inter dengan mengisi tempat Esteban Cambiasso di menit ke-71.
“Kami takluk dalam laga di mana kami sebenarnya tak tampil jelek. Kami minta maaf [kepada fans] tentang itu tapi kami telah menunjukkan kemampuan sebagai tim untuk bangkit dan bermain baik,” tutur Alvarez kepada Inter Channel.
“Ini sungguh disayangkan, tapi kami bisa memperbaiki diri,” imbuh pemain 23 tahun asal Argentina itu.
“Saya senang dapat melakukan debut di salah satu liga terpenting di dunia, dan bermain untuk salah satu klub terpenting di dunia. Tapi, sudah sewajarnya saya kecewa dengan hasil akhir.”
Kapasitas untuk bangkit dari keterpurukan wajib diperlihatkan Il Biscione pimpinan Gian Piero Gasperini dengan menaklukkan Trabzonspor di Giuseppe Meazza di matchday 1 Grup B Liga Champions, Rabu (14/9).

Diego Milito: Inter Harus Perkuat Pertahanan, Tapi...

Bomber Inter Milan Diego Milito menegaskan skuadra I Nerazzurri masih membutuhkan waktu untuk menyatu di bawah komando pelatih baru Gian Piero Gasperini.

Pemain tim nasional Argentina yang baru saja mencetak dua gol ke gawang Palermo di Renzo Barbera itu mengakui Inter masih harus berbenah terutama di sektor pertahanan.

Milito merasa kekalahan yang baru saja diderita Inter bukanlah pertanda buruk dan meminta semua pihak memberi waktu tim untuk berkembang dan tidak membandingkan dengan kekuatan mengerikan yang pernah dimiliki La Beneamata bersama Jose Mourinho.

"Bukan sikap tepat jika Anda memikirkan Inter dua tahun lalu," kata striker berusia 32 tahun itu pada Rai Sport.

"Inter sekarang berbeda. Kami memiliki pelatih baru yang memiliki skema yang berbeda dengan masa lalu. Para pemain harus bisa beradaptasi."

"Kami membutuhkan waktu. Lihat saja [Wesley] Sneijder, dia bermain lebih melebar dari biasanya. Possinya sudah berubah."

"Jangan bandingkan tim sekarang dengan yang dulu. Saya sependapat Inter harus bekerja keras meningkatkan kualitas di sektor pertahanan, tapi tanggung jawab itu tidak hanya dipikul oleh bek saja."

Milito kemudian membicarakan penampilannya di laga melawan Palermo.<script type="text/javascript" src="http://ad.doubleclick.net/adj/gna.id/level2;tile=3;sz=160x600;ord=70372?area=2l&pos=2&ord=70372"></script>

"Di level personal, selalu menyenangkan bisa mencetak gol. Tetapi saya tidak bisa menyembunyikan kekecewaan, seharusnya kami menang. Sekarang saatnya memperbaiki kesalahan dan menatap masa depan," tandasnya.

Kalah Di Laga Perdana, Gian Piero Gasperini Bersikap Positif

Gian Piero Gasperini menjelaskan kekalahan yang diderita Inter Milan di markas Palermo pada laga perdana Serie A Italia, Minggu (11/9) malam.

Inter membuang dua kali kesempatan mampu unggul terlebih dahulu atas tuan rumah hingga akhirnya kalah 4-3. Hasil itu membuat strategi 3-4-3 yang digunakan Gasperini kembali ditanyakan. Sang pelatih pun melancarkan pembelaan.

"Tim ini punya potensi, terbukti malam ini, tapi kami harus menemukan keseimbangan. Sungguh disayangkan kami kalah dalam laga perdana musim ini," tukas Gasperini usai laga.

"Kami harus berjalan bagaimana membantu serangan, yang tidak mampu kami lakukan dengan baik saat ini. Kami kebobolan dua gol pertama akibat lini pertahanan terlalu naik, jadi situasi ini tak boleh terulang dan harus diperbaiki."

"Terlepas dari kesalahan itu, penyesalan kami adalah kami tampil baik hingga menjelang akhir dan sepertinya akan menang, tapi kemudian kami bobol dua kali dengan cepat."

Gasperini juga menjelaskan alasannya mengganti Muaro Zarate saat babak pertama belum berakhir dan memberikan kesempatan kepada Ricky Alvarez untuk memulai debut.

"Zarate tampil sangat baik sepanjang pekan ini, tapi dia kesulitan dalam membantu pertahanan, sehingga saya memasukkan Wesley Sneijder," sambung sang pelatih.

"Ricky dimainkan karena menjadi kesempatan yang tepat buat kami dan kami butuh tenaga baru di tengah cuaca yang panas di Sisilia."

Julio Cesar Kritik Penampilannya

Sisilia - Inter Milan harus menelan kekalahan di laga perdana dari Palermo. Julio Cesar pun tak bisa menyembunyikan amarahnya ketika tampil di bawah performa terbaiknya.

Dalam laga yang dihelat di Renzo Barbera, Senin (12/9/2011) dinihari WIB itu, Inter sebenarnya mampu memimpin dua kali lewat dua gol Diego Milito.

Namun gol kedua Fabrizio Miccoli dan satu gol Mauricio Pinila membuat Palermo akhirnya menang 4-3 setelah diperkecil Diego Forlan di masa injury time.

Sebagai orang terakhir di lini pertahanan Nerazzurri, Cesar pun merasa sangat tak puas dengan penampiliannya tersebut. Terkhusus dua gol terakhir Palermo terjadi akibat kesalahannya mengantisipasi bola.

Ini seperti menghapus kesigapan Cesar nyaris sepanjang 80 menit jalannya laga dengan menggagalkan beberapa peluang Il Rosanero.

"Saya sangat marah sekali pada diri sendiri. Saya sebenarnya tampil bagus hari ini namun setelah free kick Miccoli saya mau tak mau harus marah. Saya berusaha mencari Miccoli, kenapa saya tidak melihatnya karena saya terlalu bergerak ke kiri dan lalu menahannya dengan tangan yang salah," aku Cesar usai laga kepada Sky Italia.

"Begitu juga dengan gol keempat jika saya berada di belakang bola namun sayangnya saya tidak melakukannya. Apakah saya terlalu keras pada diri sendiri? Anda harus bisa mengkritik diri sendiri jika Anda ingin menjadi kiper Inter dan timnas Brasil," tutupnya.

Masih Ingin Pakai 3-4-3, Gasperini?

Sisilia - Dua kali Inter Milan memakai formasi 3-4-3 di laga resmi, dua kali mereka menderita kekalahan. Apakah ini pertanda untuk Gian Piero Gasperini untuk segera mengubah formasi favoritnya itu?

Sejak pertama kali ditunjuk menangani Inter, memang banyak yang mempertanyakan apakah skema 3-4-3 kegemaran eks pelatih Genoa itu cocok untuk Nerazzuri yang sudah lama bermain dengan pola 4-2-3-1.

Maka ketika kalah di laga Super Italia kontra AC Milan, formasi tersebut kembali dikritik dan mengingat performa Inter di laga pramusim tidaklah istimewa dengan masalah utama di lini belakang.

Kekhawatiran itu terbukti lagi di partai perdana Seri A kontra Palermo di mana Inter yang sempat unggul 2-1 akhirnya harus mengaku keunggulan Il Rosanero 3-4.

Lini belakang yang digalang Lucio dkk terlalu mudah ditembus dan jarak antara pemain tengah terlalu sehingga menimbulkan celah yang bisa dimanfaatkan para pemain Palermo untuk melakukan serangan balik.

Bagaimana Gasperini menyikapi hal ini? Ia tak menyinggung soal formasi kegemarannya itu melainkan menyebut Il Biscione hanya kurang menemui keseimbangan dalam permainan.

"Tim ini punya potensi sebagaimana yang kami buktikan malam ini. Namun kami butuh menemukan keseimbangan yang paling memungkinkan. Kekalahan di laga pertama ini memalukan," seru Gasperini seperti dilansir Football Italia.

Lebih lanjut pelatih berambut putih ini pun menyesal jika akhirnya timnya gagal mempertahankan keunggulan yang sempat digenggamnya. Ini artinya PR Gasperini untuk membenahi sisi attack dan defence masihlah banyak.

"Banyak hal kecil yang menggangguku namun di atas itu semua kami tak bisa mempertahankan keunggulan itu sampai dua kali. Lalu saat kami masih memegang kendali permainan dan kami pun akhirnya harus tertinggal. Itulah penyesalan terbesarnya," ungkap Gasperini.

"Tak diragukan lagi jika kami harus berkaca dari situasi ini di mana kami banyak membuang kesempatan melakukan serangan balik menunjukkan kurangnya konsentrasi. Kami harus memperbaiki itu."

"Kami harus belajar bagaiman mendukung serangan di mana saat ini kami tidak bisa melakukannya dengan sangat baik. Kami kebobolan dua gol pertama di mana lini pertahanan tidaklah bagus. Ini adalah situasi yang tidak bisa diterima dan harus ada peningkatan," akunya.

"Disamping kesalahan ini, penyesalan kami adalah kami melakukan dengan baik hingga akhir dan kelihatannya akan menang namun kami lalu kebobolan dua gol cepat," tutup Gasperini.

'Scudetto Hingga Titik Darah Penghabisan'

Written By Japrax on Selasa, 06 September 2011 | 01.25

Beritabola.com Milan - Bek Inter Milan Andrea Ranocchia punya prediksi perihal jalannya Seri A musim 2011/2012. Menurutnya, pertarungan perebutan scudetto akan berlangsung hingga saat-saat akhir.

Di mata Ranocchia, Inter Milan dan AC Milan adalah dua kandidat terkuat untuk menjuarai Seri A. Persaingan Nerazzurri dengan Rossoneri yang berlangsung ketat musim lalu diprediksi akan terulang.

"Ini akan jadi musim yang sangat terbuka, karena kami semua berada di level yang sama," kata Ranocchia sebagaimana yang diwartakan Football Italia.

Inter punya sejumlah tantangan musim ini, yang terutama adalah keberadaan pelatih anyar mereka, Gian Piero Gasperini. Ranocchia pun memprediksi bahwa duel perebutan scudetto akan sengit hingga tetes darah penghabisan.

"Kami masih butuh waktu untuk menyatu karena kami kini di bawah pelatih baru. Tapi pergerakan kami di bursa transfer sangat fantastis," ucap bek berusia 23 tahun itu.

"Kami mengincar posisi teratas, itulah yang kami lakukan setiap tahun. Saya pikir kami bakal memperebutkan scudetto hingga saat-saat terakhir," tambah Ranocchia.

Walau menilai Inter dan Milan sebagai dua kandidat terkuat, Ranocchia tidak mau mengesampingkan para kompetitor lain yang juga punya kekuatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

"Saya pikir ini tidak cuma jadi duel dua tim San Siro. Ada banyak klub lain yang sudah memperkuat diri, seperti misalnya Juventus. Ini akan jadi duel yang seru," tuntas Ranocchia.(dtc/arp)

Sulley Muntari Batal Ke Galatasaray

Sulley Muntari hampir dipastikan tetap bermukim di Giuseppe Meazza musim ini setelah transfernya ke Galatasaray kandas.
Tak seperti liga-liga utama Eropa, jendela transfer musim panas di Super Lig Turki masih dibuka hingga Senin (5/9) ini.
Namun, meski sempat dikabarkan sudah dekat penggaetan gelandang Inter Milan asal Ghana itu, situs Football Italia melaporkan Galatasaray urung merealisasikan transfer tersebut.
Direkrut Inter dari Portsmouth pada 2008 di masa kepelatihan Jose Mourinho, seiring waktu kans bermain Muntari justru semakin terkikis.
Di paruh akhir musim lalu ia bahkan dipinjamkan ke Sunderland. Muntari kemudian kembali ke Inter setelah The Black Cats enggan memanfaatkan opsi pembelian permanen yang mereka miliki.

Sneijder Tak ke MU karena Saran Mourinho

AMSTERDAM, KOMPAS.com - Gelandang Inter Milan, Wesley Sneijder, mengatakan salah satu penyebab dirinya tidak pindah ke Manchester United (MU), pada bursa transfer lalu adalah nasihat dari pelatih Real Madrid, Jose Mourinho.
"Mourinho menyarankanku untuk bertahan. Ia peduli kepada Inter," ujar Sneijder.
Mourinho dan Sneijder pernah bekerja sama sebagai pelatih dan pemain di Inter pada musim pada 2009-2010. Inter menutup musim itu dengan tiga trofi, yaitu Liga Champions, Serie-A, dan Piala Italia.
Menurut Sneijder sendiri, Inter mengalami masalah keuangan sehingga mempertimbangkan menjualnya ke MU pada bursa transfer lalu. Namun, ia mengatakan, transfer tak terjadi, karena Inter berhasil menjual Samuel Eto'o ke Anzhi Makhachkala dan itu cukup bagi Inter mengatasi masalah tersebut.
"Aku senang tetap di sini karena aku tak pernah berpikir pergi. Ketika kami menjuarai Piala Italia dan berlibur, aku hanya berpikir kembali ke Pinzolo. Namun, Inter menelepon agenku. Mereka perlu uang dan ingin menjualku. Aku bicara dengan Manchester United, setiap orang tahu itu. Kemudian, datanglah kesepakatan untuk Eto'o yang membuat segalanya berubah," jelas Sneijder.
MU bukan satu-satunya yang tertarik merekrut Sneijder. Menurut agen penyerang Carlos Tevez, Kia Joorabchian, Manchester City berencana menukar kliennya dengan Sneijder. Namun, menurutnya, rencana itu batal, setelah City berhasil merekrut Samir Nasri dari Arsenal.
"Aku tak tahu apa pun soal itu (Manchester City). Aku bahagia di Kota Milan. Aku suka orang-orangnya. Aku suka sepak bola Italia. Tim dalam keadaan baik-baik dan Presiden (Massimo Moratti) adalah yang nomor satu. Aku tak punya alasan untuk pergi," tukasnya.

Inter Tak Lagi Dinilai Sebagai Rival Berat Milan

Beritabola.com Jakarta - Keberhasilan AC Milan menjuarai Seri A musim lalu sekaligus mengakhiri dominasi Inter Milan beberapa tahun terakhir. Lantas akankah kedua tim akan bersaing ketat lagi musim depan? Tidak menurut Stefano Eranio.

Rossoneri menggondol titel juara Seri A musim lalu dengan cukup nyaman. Gelar bahkan dipastikan dengan dua partai sisa.

Melihat materi yang dimiliki Milan saat ini, Eranio yang merupakan mantan bintang pujaan di Genoa, Milan dan Derby County, meyakini kalau 'Merah-Hitam' akan kembali menutup musim sebagai kampiun Seri A.

"Ada beberapa tim yang bagus di kompetisi Italia, tapi saya pikir jarak Milan dengan tim-tim lain terlalu besar," ujar Eranio dalam wawancara dengan detikSport di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Minggu (4/9/2011).

"Tapi sepakbola adalah sebuah hal yang unik, Anda tidak bisa menebak hasil atau apa yang akan terjadi, entah itu ketika melawan Napoli atau Inter, apalagi mereka masih memiliki beberapa pemain bagus. Namun, saya pikir Milan akan menjadi juara lagi musim ini," tegasnya.

Pria berusia 44 tahun yang saat ini juga merupakan bagian dari staf kepelatihan untuk pemain muda Milan tersebut juga menilai kalau Inter, yang musim lalu jadi rival terberat Milan, takkan menyandang status itu lagi musim ini karena sejumlah alasan.

"Saya tidak berpikir Inter akan menjadi saingan terberat karena (Presiden Inter Massimo) Moratti masih harus mengatur mereka dari beberapa masalah. Mereka juga punya pelatih baru, yang mana merupakan pelatih yang bagus--(Gian Piero) Gasperini melatih dengan sangat baik di Genoa, tapi mereka mengubah beberapa struktur dan harus membiasakan diri."

"Kalau mungkin dulu mereka bermain dengan empat bek, kini mereka harus bermain dengan tiga bek. Jadi, tidak mudah untuk mengubah kebiasaan seperti itu. Tapi, kita lihat saja nanti. Mereka masih punya beberapa pemain bagus di dalam tim mereka. Maicon kini sudah kembali dari cedera dan (Welsey) Sneijder, yang mana merupakan salah satu pemain terbaik di dunia, sudah mengatakan dia ingin tetap di Inter," papar Eranio.

Selain itu, faktor hijrahnya Samuel Eto'o dari Inter ke Anzhi juga disebutnya memiliki imbas negatif terhadap daya dobrak tim tersebut musim ini.

"Inter Milan kehilangan beberapa kekuatannya karena Eto'o hengkang dan sulit untuk menggantikannya. Mereka memang mendapatkan Diego Forlan, seorang pemain yang bagus juga, tetapi masih sulit untuk menggantikan Eto'o," lugas Eranio.

Giuseppe Rossi Ke Inter Milan Musim Depan

Serie A Italia musim 2011/12 belum juga dimulai, tapi Inter Milan sudah mengagendakan transfer pemain untuk musim berikutnya.

Giuseppe Rossi menjadi pemain yang berada dalam daftar buruan teratas bursa transfer musim panas berikutnya.

Dilaporkan sejumlah media massa Spanyol dan Italia, Inter Milan sudah mengalokasikan dana hingga 25 juta euro untuk striker Villarreal itu.

Namun Inter Milan diperkirakan akan mendapat saingan dari klub Serie A lain, seperti Juventus dan Napoli, yang masih berusaha meningkatkan kualitas lini depan mereka.

Julio Cesar Bersyukur Sneijder Bertahan

KOMPAS.com - Kiper Inter Milan, Julio Cesar, bersyukur atas keputusan Wesley Sneijder bertahan di tim asuhan Gian Piero Gasperini tersebut. Hal itu karena menurutnya, Sneijder adalah pemain yang bisa membawa perbedaan sehingga bisa berguna banyak bagi tim.
"(Kami) bersyukur Sneijder tetap bertahan di Inter. Hal-hal akan berjalan semakin sulit tanpa kehadiran dirinya. Dia adalah tipe pemain yang bisa menciptakan perbedaan bagi tim mana pun. Secara teknis dia kuat, tapi juga sangat berguna bagi tim," kata kiper tim nasional Brasil tersebut, pada La Gazzetta dello Sport.
"Banyak orang mengatakan bahwa Inter telah semakin jauh melemah pada musim panas ini, tapi aku tidak setuju. Beberapa pemain telah pergi dan yang lainnya bergabung bersama kami untuk menggantikan mereka. Kami tetaplah sebuah tim yang sangat tangguh. Mayoritas skuad tetap bertahan dan kami memiliki pelatih baru dengan ide-ide segar."
Inter sendiri akan memulai kompetisi Serie A musim 2011/2012 saat berhadapan dengan Palermo pada 11 September mendatang. Mereka akan mencoba meraih kembali gelar Scudetto yang pada tahun sebelumnya jatuh ke tangan sang rival abadi yang juga saudara sekota, AC Milan.

Zarate Tak Merasa Kelebihan Berat Badan

KOMPAS.com - Penyerang anyar Inter Milan, Mauro Zarate, menepis anggapan bahwa dirinya kelebihan berat badan sehingga belum siap untuk tampil maksimal bagi tim asuhan Gian Piero Gasperini tersebut. Menurutnya, ia siap untuk tampil dan memberikan opsi lebih di lini depan Inter saat ini.
"Ketika aku berada di Argentina dengan teman-teman saat liburan, aku memakan banyak makanan sehingga sedikit kelebihan berat badan saat kembali. Tapi aku telah memangkas berat badan saat sesi pra-musim sehingga aku siap untuk bermain," ujar mantan penyerang Lazio tersebut.
Banyak orang mengatakan bahwa kehadiran Zarate dan penyerang anyar lainnya, Diego Forlan, merupakan bagian dari rencana Inter untuk mengisi lubang yang ditinggalkan penyerang Samuel Eto'o akibat kepindahan dirinya ke Anzhi Makhachkala beberapa saat lalu. Walau begitu, Zarate menepis anggapan itu karena menurutnya ia dan Forlan memiliki karakter permainan berbeda dengan penyerang asal Kamerun tersebut.
"Eto'o adalah pemain hebat, tapi ini adalah musim baru dan diriku dan Forlan adalah pemain (dengan tipe) yang berbeda," tegas Zarate.

Diego Forlan Absen Di Fase Grup Liga Champions

UEFA tidak mengizinkan Inter memasukkan nama Diego Forlan dalam susunan skuad yang berlaga di fase grup Liga Champions.

Hal ini tak bisa dilepaskan dengan keikutsertaan Forlan di Liga Europa saat masih membela Atletico Madrid.

Regulasi UEFA menyatakan pemain hanya bisa ikut dalam fase grup bersama tim lain bila klub yang dibela sebelumnya tidak bisa melangkah ke babak berikutnya.

Karenanya Forlan tidak akan bisa dimainkan Inter di fase grup Liga Champions. Forlan baru mendapat izin bermasin di kompetisi terbaik antarklub Eropa itu bila Inter masuk ke fase knockout di bulan Februari.

Geliat Transfer Inter Puaskan Gasperini

Beritabola.com Milan - Musim panas ini Inter Milan cukup sibuk di jendela transfer dengan beberapa proses jual-beli. Meski menyayangkan kepergian Samuel Eto'o tapi Gian Piero Gasperini puas dengan pembelian Nerazzurri.

Menjelang bergulirnya musim yang baru ini Inter paling diganggu dengan rumor masa depan Wesley Sneijder dan juga Eto'o yang diincar klub Eropa lainnya. Eto'o akhirnya pindah ke klub Liga Rusia, Anzhi Machakhala dengan banderol 27 juta euro.

Sementara itu Sneijder adalah figur yang paling Inter pertahankan mati-matian karena godaan Manchester United hingga detik-detik akhir bursa transfer masih muncul, meski akhirnya playmaker Belanda itu menyatakan kesetiaannya tetap berbaju biru-hitam.

Kehilangan Eto'o, Inter langsung mengakuisisi dua penyerang Amerika Latin, Diego Forlan dan Mauro Zarate. Sementara itu sebelumnya Il Biscione sudah memperkuat lini lainnya dengan merekrut Jonathan, Ricky Alvarez, Luc Castaignos, Andre Poli dan Emiliani Viviano.

Dengan tambahan anggota skuad musim lalu, Inter pun boleh punya optimisme besar jika mereka bisa merebut Scudetto yang hilang musim lalu. Hal yang mana diutarakan Gasperini yang puas melihat aktivitas Inter di musim panas ini dan berterima kasih kepada manajemen klub atas pembelian pemain-pemain baru.

"Pasar transfer kali ini cukup sulit namun aku senang. Klub melakukan yang mereka bisa untuk memberikan yang kumau dan aku berterima kasih atas hal itu," ungkap Gasperini seperti dilansir Football Italia.

"Beberapa pemain penting datang dan kami punya banyak pilihan. Pemimpin dari tim ini adalah para pemain itu sendiri. Kesatuan inilah yang membuat perbedaan," sambungnya.

"Kami tidak pernah mengharapkan ada tawaran untuk Eto'o walaupun harus diakui banyak opera sabun terjadi di musim panas ini. Tapi kami tetap rileks. Kami mampu mengganti kehilangan dia dengan beberapa pemain yang sangat baik," tutup Gasperini.

Jangan Lupa Follow Us Interisti

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Inter Milan Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger