Headlines News :

WELCOME LUCIANO

WELCOME LUCIANO

Berita Terbaru FC Internazionale

Tampilkan postingan dengan label Sepakbola Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepakbola Indonesia. Tampilkan semua postingan

Pendukung Inter Milan dan Juventus Saling Lempar Batu di Kawasan Boulevard Manado

Written By Japrax on Minggu, 31 Maret 2013 | 13.53

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kemenangan Juventus yang melawan Inter Milan di laga seri A diwarnai aksi saling lempar batu antara kedua pendukungnya di Manado, Minggu (30/3/2013) sekitar pukul 00.30 Wita.

Mereka awalnya saling ejek dan kemudian saling lempar batu di depan Resto Soccer yang ada di Kawasan Jalan Boulevard Manado.

Tak hanya itu saja, kedua pendukung pun sempat adu jotos di tempat tersebut. Untungnya warga sekitar situ langsung membubarkan kedua kubu tersebut.

Saling ejek ini berawal ketika pendukung Jeventus melakukan konvoi karena timnya menang melawan Inter Milan saat berlaga di seri A Liga Calcio.

Fans Jeventus itu kemudian melewati Resto Soccer yang saat itu sedang diadakan nonton bareng yang dihadiri oleh fans dari Inter Milan. Lewat tempat itu, fans Juventus yang konvoi sembari memainkan gas membuat marah fans Inter. Mereka marah karena suara kendaraan fans Juventus itu seakan mengejek Inter Milan yang kalah pada pertandingan tersebut.

Tak terima, aksi saling lempar pun terjadi. Tak hanya itu saja, saking kesalnya fans Inter kemudian membakar kostum Juventus di depan fans fanatiknya.

Indonesia vs Arab Saudi: Uji Taktik Parkir Motor

Written By Japrax on Sabtu, 23 Maret 2013 | 14.30

Latihan Timnas Indonesia (foto: Hilman-SOCCER)

LIVE SCTV, Sabtu (23/3), 19.00 WIB

Menarik menanti strategi yang bakal diterapkan oleh duet pelatih Rahmad Darmawan dan Jacksen F Tiago. Menurut RD, tim nasional Indonesia bakal memeragakan strategi "parkir motor" pada laga kontra Arab Saudi. Dia menampik taktik bertahan total alias "parkir bus" guna meredam serangan-serangan armada Juan Ramon Lopez Caro.

Para penggawa Tim Merah Putih diminta bermain terbuka dan tetap melancarkan serangan kala ada kesempatan. Tetap saja, guna menunjang strategi ini, Indonesia butuh kecepatan. Beruntung, Boaz Solossa dan Greg Nwokolo sudah kembali ke skuad. Aksi individu kedua pemain merupakan opsi saat Sergio van Dijk dijaga ketat oleh lawan. Andik Vermansyah pun bisa jadi pilihan lain.

Tinggi badan jelas menjadi ancaman untuk barisan belakang Indonesia. Masih lekat dalam ingatan kala Saad Al Harthi membobol gawang Yandri Pitoy. Kala itu, Al Harthi memenangkan duel udara pada masa injury time.  RD pun peka dan mengasah kemampuan menghalau serangan lewat bola mati pada sesi latihan.

Akan tetapi, rencana RD masih sebatas verbal. Bukti masih dinanti di lapangan hijau. Bila mampu minimal menahan hasil imbang, tim nasional tak sekadar memelihara asa lolos ke putaran final, tapi juga memberi aura perubahan setelah rentetan kekalahan sepanjang medio 2013. (Anju)

REKOR PERTEMUAN
  • Kedua tim telah bertemu 11 kali. Namun, Indonesia tak pernah sekalipun memetik kemenangan.
  • Kali terakhir berjumpa pada Piala Asia 2007, Indonesia takluk dengan skor 1-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
INDONESIA
  • Indonesia selalu menelan kekalahan pada tiga pertandingan terakhir berbagai ajang. Bahkan, Tim Garuda tak sekalipun menyarangkan gol.
  • Kali terakhir Indonesia menang yakni pada laga kontra Singapura November tahun lalu. Kala itu, Andik Vermansyah mencetak gol tunggal.
  • M Ridwan, Ricardo Salampessy, Firman Utina, dan Supardi sempat turut serta pada pertandingan kontra Arab Saudi 2007 lalu.
  • Bila diturunkan, Sergio van Dijk bakal menorehkan caps pertama untuk Indonesia.
  • Yohanes Pahabol menjadi pemain termuda dalam skuad Indonesia.
ARAB SAUDI
  • Arab Saudi memenangkan dua laga terakhir berbagai ajang.
  • Kali terakhir Arab Saudi menelan kekalahan yakni pada Januari 2013. Kala itu, mereka takluk dari Kuwait dengan skor 0-1.
  • Pelatih Juan Ramon Lopez Caro belum pernah menangani tim nasional pada level senior.
  • Sejak menerima tongkat estafet dari Frank Rijkaard, Caro berhasil menyumbang dua kemenangan untuk Arab.
  • Osama Hawsawi dan Saud Khariri masuk dalam skuad Arab Saudi yang tampil pada Piala Asia 2007.
PRAKIRAAN LINE-UP
Indonesia (4-2-3-1):  Meiga, Supardi, Igbonefo, M Robi, Tony, Manu Wanggai, Bustomi, Bachdim, Greg, Boaz; Van Dijk
Arab Saudi (4-4-2):  Waleed, Al Bishi, Hawsawi, Al Zori, Al Harbi, Al Dossari, Khariri, Al Jassim, Al Shehri, Hazazi, Al Salem

"Bukan Hanya ISL, Klub-klub IPL Juga Sama"

Written By Japrax on Rabu, 06 Februari 2013 | 19.24

"Saya minta Indonesia Primer League (IPL) segera dipastikan dahulu dan mereka mengatakan akan kick-off 10 Februari 2013. Kalau itu berjalan, saya bisa membubarkan liga yang tidak prosedural.” (Roy Suryo)

Keterangan yang disampaikan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Bpk. KMRT Roy Suryo Notodiprojo mengenai akan dihentikannya kompetisi Indonesia Super League pada 10 Februari 2012, jika belum juga ada penyelesaian gaji-gaji pesepakbola yang tertunggak, mungkin bisa dinilai sebagai langkah tegas yang diambil pemerintah akan masalah penunggakan yang tak kunjung selesai ini.

Akan tetapi jika kita lihat lebih lanjut, lampu hijau yang diberikan Menpora untuk kompetisi IPL yang direncanakan akan bergulir pada 11 Januari 2013, mungkin juga harus diganti menjadi lampu kuning. Karena sampai saat ini, beberapa klub yang akan bermain dikompetisi yang “sah” dan “diakui” oleh PSSI tersebut pun, masih menyisakan tunggakan gaji kepada pesepakbola yang tidak sedikit jumlahnya.

Menurut laporan langsung para pemain kepada APPI, terdapat sejumlah tim IPL yang sampai H-6 dibergulirkannya kompetisi, masih belum melunasi kewajibannya kepada pemain.
Diantaranya adalah: Bontang FC: 6,5 – 8 Bulan, Persebaya (Surabaya): 1-4 Bulan, Persema (Malang): Beberapa pemain belum menerima gaji selama 5-8 Bulan, Perseman (Manokwari): 4 Bulan.

Bukan hanya klub-klub pada Liga Primer, sebagian klub-klub yang bermain pada kompetisi Divisi Utama LPIS pun juga masih memiliki tunggakan kepada pemainnya, yakni: Persipasi (Bekasi): 9 Bulan, Persipro Bondowoso United: 5 Bulan (Pesepakbola Asing), Gresik United: 90% dari Gaji satu musim (2011/2012) belum dibayarkan.

Selain itu, Pesepakbola asing asal Prancis, Moukwelle Ebwangga yang saat ini terkapar karena sakit, juga masih belum dibayarkan 6 bulan hak-nya oleh Persewangi (Banyuwangi) yang berkompetisi di Divisi Utama LPIS.

Oleh karena itu, APPI berharap Menpora untuk dapat tegas dan adil untuk menindak operator liga yang tetap memberikan izin bertanding, bagi klub-klub yang diketahui masih memiliki tunggakan terhadap pemainnya. Sesuai dengan regulasi FIFA yang berlaku, yakni berdasarkan Pasal 10.4 Poin F.03 FIFA Club Licensing Regulation yang menyatakan, bahwa setiap klub yang mendapatkan lisensi harus bebas dari tunggakan terhadap karyawan (termasuk pesepakbola yang masih aktif bermain di klub tersbut atau bekas pesepakbola di klub tersebut).

Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI)

sumber

Sekilas Masa Di Timnas Indonesia

Tulisan mantan media officer dan corporate secretary timnas, Desy Christina >>

Mungkin belum banyak yang tahu, saya sudah non-aktif menjabat National Team Corporate Secretary sejak September 2012 dan tepatnya Desember 2012, baru secara resmi saya melayangkan surat resign kepada PSSI (dalam bentuk e-mail langsung kepada exco timnas, sekjen pssi dan bendahara pssi). Sejujurnya, saya sudah mulai tidak betah bekerja di sana sejak pertengahan tahun. Saya mendapati banyak miskomunikasi selama disana yang membuat saya selalu kesal. Mungkin akan saya runut ceritanya agar lebih mudah dipahami.

Saya melepas jabatan media officer kira-kira pada bulan desember 2011 dan mulai menjabat corporate secretary di januari 2012, bentuknya masih dalam Surat Keputusan. Sebagai seseorang yang sudah terbiasa kerja dalam sistem profesional, saya yang paling sering menyuarakan keberatan dengan sistem SK. Saya kerap meminta kontrak, namun jawaban yang saya dapat selalu, "sedang diurus". Saya bertanya kepada atasan langsung di timnas, jawaban juga selalu sama. Ada yang aneh disini, saat kami mengajukan nilai gaji, tidak pernah sekalipun kami dipanggil menghadap bagian legal dan sekjen PSSI untuk mematangkan ikatan kerja dan nilai gaji. Namun mendadak setelah menyerahkan nominal gaji yang diharapkan, saya begitu saja mendapat transfer gaji setiap bulan. Sempat saya bertanya, "kenapa mereka tidak memanggil untuk negosiasi?", namun seluruh manajemen timnas juga tidak paham alasannya. Saya menerima gaji saya setiap bulan, namun tetap cerewet menanyakan kontrak saya, jamsostek, asuransi kesehatan dan PPH karena saya tidak puas dengan SK.

Karena mencoba memahami situasi baru (pengalihan kepengurusan di federasi), saya selalu memaksa diri saya untuk toleran. Saya menunggu dan menunggu sembari bekerja semaksimal mungkin. Bahkan saya dan teman seringkali tidak libur untuk terus mengurus timnas berbagai lapisan. Agenda timnas adalah sesuatu yang seringkali membuat saya kesal. Saya tidak pernah paham skala prioritas PSSI dalam mengikuti turnamen biasa dan turnamen wajib, namun rupanya semua kebijakan masih diatur secara politis. Katakan, keikutsertaan di Palestina. Kondisi keuangan saat itu berdarah-darah dan selanjutnya ada agenda wajib timnas. Betul bahwa kita harus terus mengasah kemampuan dengan sebanyak mungkin beruji coba. Namun bagaimana pengaturan skala prioritas keuangan timnas? Administrasi pengurusan visa dan lain-lain?

Bulan Maret tepatnya adalah saat saya mulai kecewa luar biasa. Saya ditugaskan atasan meng-handle 3 timnas yang harus melakukan TC di Jogja bersamaan dan dalam waktu panjang, senior, U-23 dan U-17. Sudah tiba disana, keuangan PSSI belum bisa mencairkan DP 3 hotel. Akhirnya, berbekal negosiasi mati-matian dan karena saya ikut merasa malu jika agenda tersebut cacat, saya negosiasi (tanpa bantuan PSSI) untuk bekerja sama dengan 3 hotel sekaligus, katakan hotel X, Y dan Z. Sewaktu itu saya berlandaskan informasi bagian keuangan bahwa timnas senior bisa range harga sekian. Kala itu, hotel di Jogja teramat penuh agenda. Saya memberanikan diri datang ke 2 hotel bintang 4, meeting dua kali, dan saya berhasil mendapat harga dibawah range hotel bintang 3. Anggap saja, jika seharusnya sejuta ke atas, saya berhasil menego hingga 325ribu untuk paket kamar, 3x makan, 2x coffee break, satu set laundry, fitness centre dan meeting room. Saya lega, dan akhirnya mengajukan ke keuangan. Namun uang belum cair, padahal TC akan dimulai dalam waktu 3 hari ke depan dan saya sudah harus mengirim surat panggilan ke klub. Saya datang lagi, setengah mati negi, akhirnya dengan baik hati pihak hotel memberikan jaminan masuk tanpa DP terlebih dahulu. Ini jarang-jarang terjadi di dunia perhotelan. Masuk tanpa DP. Apalagi ada upgrade kamar untuk pelatih kepala sebagai hadiah. Semua sudah berjalan. Pemain masuk, muncul kasus baru bahwa ISL menolak melepas pemainnya, padahal saya sudah diminta mendaftarkan nama mereka. Tarik-ulur terus terjadi sehingga pergantian nama dan pengurusan visa pun amburadul. Misal si pemain X konon akan datang, di batas waktu mendadak batal, atau harus pulang, cedera, dll. Sehingga pengurusan administratif ke Palestina jadi semakin ruwet. Apalagi mengurus ke Palestina susah dan sudah diingatkan federasi di sana bahwa harus secepat mungkin. Sebagian belum memiliki atau belum memperpanjang passport. Setiap ada masalahh pergantian pemain, mendadak saya harus mereka ulang pengurusan administratif pemain ke luar negri. Kondisi TC memang keluar masuk dan banyak kejadian tidak diharapkan sehingga membuat list pemain membengkak. Sudah list pemain membengkak, eh officials dan tamu juga daftarnya membengkak. Kalo dihitung-hitung bisa mencapai 75 orang yang sudah saya daftarkan melalui mbak Farina (ini pengurus PSSI yang baik dan memang sangat rajin). Usaha nego untuk membuat passport cepat berhasil, eh dokumen pemain kurang lengkap. Bolak-balik meminta dokumen (ada yg hilang, ada yg di kampung dll) kerap terjadi. Belum masalah lapangan, pengurusan tiket pemain dan officials keluar masuk, daftar reimburse dana, uji tanding, kualitas makanan hotel, obat-obatan dokter, masalah laundry, sampai hal sekecil-kecilnya menjadi tanggung jawab saya di sana seorang diri. Di hotel lain, tim lain juga mulai seleksi pemain. Jadi saya sempat kewalahan. Asisten saya baru datang kira-kira 3 minggu sesudahnya untuk saya harapkan membantu saya di U-23 juga. Semua dilakukan dengan tenggat waktu yang terbatas. Jika ada satu saja missed, maka pengolahan ulang data harus terrjadi. Makanya saya terkadang sangat emosional jika menonton pertandingan timnas, karena sedemikian saya tahu proses di baliknya.

Well, saat saya sendiri dan kewalahan, mencoba fokus, saya kerap berrtanya-tanya dalam hati, "mengapa ke Palestina harus pergi dan TC lama padahal bisa untuk konsentrasi laga wajib?", " Mengapa kesulitan dana tapi mengundang pejabat untuk ikut bersama rombongan?", "Mengapa event tidak resmi digelar di luar agenda wajib memaksa pemain harus ke Jogja padahal turnamen tengah berjalan?", "Mengapa tidak ada ketegasan soal agenda timnas dari atasan - mana yang harusnya oke mana yang belum sanggup untuk diikuti?". Tapi namanya juga saya cewek, bagi mereka mungkin masih hijau, anak baru kemarin sore, jadi tidak akan didengar. Jadi saya jalankan saja dengan berdarah-darah. Bayangkan, seringkali mepet pengurusan visa berlangsung dengan pengurusan booking tiket dan pengurusan akomodasi di hotel luar berjalan bersamaan. Saya dan mbak Farina (PSSI) sudah berusaha setengah mati, ternyata dampai H-1 saja masih ada pergantian personil. Atasan tidak mau tahu kesulitannya seperti apa, tapi tetap minta dibawa. Toh akhirnya paham pas di Jordan susah masuk ke Palestina kan? Mereka sudah diingatkan kami tapi keras kepala. Belum lagi ketegasan uang saku kerap berubah. Informasi kepada pemain menjadi simpang-siur. Siapa yang kena getahnya? Yah manajemen yang sedang di TC, Sampai sekarang saya yakin miskomunikasi atasan dan PSSI soal uang saku harus tidak lagi terjadi. Karena bukan mereka yang tengah berhadapan dengan rombongan di TC.

Syukurnya pak Lamdelif (bagian keuangan timnas) dan Citra (asisten saya) akhirnya tiba. Saya yang sudah lelah akhirnya terhibur. Mereka sangat membantu di U-23 dan U-17 dan berdedikasi. Alhasil, saya dan mbak Farina (juga Ariel) berhasil memberangkatkan rombongan, meski banyak masalah terjadi. Sampai di Jordan dan Palestina pun saya dan mbak Farina masih harus sering menelpon kesana pagi-siang-sore-malam dengan ponsel pribadi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di sana dengan cepat. Saya yakin sekjen Palestina, Susan, sudah bosan dengan suara dan permintaan tolong saya dari Indonesia. Bayangkan, sudah sampai sedemikian rupa mengikuti kebijakan labil, saya masih didera bocoran ada yang mengatakan, "kenapa kok 2 pemain dan manager tertahan di Jordan? Desy dan Farina ngurusnya gimana?". Emosi, iya. Sudah dibilang harus jelas dari sebelum-sebelumnya, tetapi memasukkan nama baru bisa H-1 dan H-2? memangnya kami dewa? Memangnya Israel mudah di-lobby? Perlu kalian ketahui bahwa masalah seperti ini kerap terjadi. Saya pernah menolak ke Jepang karena waktu itu harus mengorbankan kitman (orang yang harusnya justru berada bersama tim), tak dinyana kitman tetap berangkat belakangan dan bermasalah. Oh well... Saya tidak pernah setuju jika banyak pejabat ikut rombongan. Malu dengan negara lain yang efisien.

Nah, problem kekecewaan saya akarnya disitu. Setelah dari Palestina, ternyata penyelesaian hotel tidak terurus. Saya sudah minta invoice hotel untuk diselesaikan segera karena mereka begitu baik, tapi juga tidak diselesaikan. Saya sampai malu kepada teman-teman pihak hotel. Padahal, mereka begitu baik sampai ada beberapa yang menawarkan bonus biaya hotel ke kantong pribadi saya karena membangun kerja sama (yang tentunya saya tolak). Saya sih dapat uang cukup dari gaji dan uang saku saja, seadanya tapi gak akan bermasalah. Mereka juga memberi diskon terhadap PSSI, tapi juga tidak dibayar. Ini berlangsung hingga bulan September lalu kalau tidak salah. Para orang-orang baik itu menjadi tumbal masalah dana PSSI, dampaknya jelas jajaran petinggi mereka di hotel menekan mereka terus-menerus. Saya turut sedih, tapi tidak bisa bersuara lagi. Saya sangat kecewa dengan PSSI. Yng lebih buat saya kaget, ada yang komplain dengan biaya di Jogja yang sedemikian tinggi. Lah wong di sana 3 tim dan lebih dari sebulan. Katanya seharusnya timnas di wisma saja. Jujur, saya sudah cari wisma kala itu untuk junior tapi tidak ada yang kosong. Ada satu yang kosong tapi tanggalnya bolong-bolong. Jadi timnas harus masuk-keluar di tanggal-tanggal tertentu. Semua sudah dilakukan, tetap alasan tunggak pembayaran adalah mahal. Saya bengong, nanya, "loh, mereka kemana saja pas nego awal? Kan sudah disampaikan kondisinya? Lalu itu dapat hotel bintang 4, setengah mati didiskon ampun-ampunan sampai harga paketnya di bawah 350 ribu fullboard kok masih keberatan belakangan?.

Di Filipina (kebetulan saya ikut rombongan), juga saya pernah kesal sekali. Saya kebetulan kenal dengan match commissioner, David di laga wajib tersebut, dia adalah sahabat teman saya Jayric. Dia bilang kepada saya setelah technical meeting, "Desy, Indonesia tidak akan nambah orang di bench kan? Soalnya Indonesia sering begitu, yah saya cuman mau mengingatkan saja...Kalau bisa tetap dengan maksimal 8", yang saya jawab, "maafkan saya jika kondisinya sering seperti itu, tapi tidak akan terjadi lagi". Tahunya seorang pejabat PSSI mendatangi saya besoknya minta ID card bench untuk kedubes. Saya bilang saya usahakan di royal box. Namun dia keukeuh minta ID bench. Sampai akhir saya nggak kasih, tapi ternyata dia masuk ke lapangan sebelum pertandingan dimulai dan bersama kedubes duduk di sana. Dengan segala hormat, KBRI kita Filipina sangat membantu, namun saya bingung dengan permintaan petinggintersebut yang bagi saya lebay. Saya saja tidak pernah mau duduk di bench. Ngapain? Mending yang benar-benar penting membantu di lapangan. Jelas David tidak bisa komplain setelah mereka duduk, dia hanya mendatangi saya dan tertawa-tawa. Tapi saya malu luar biasa. Kejadian seperti ini sering terjadi, terburuk, malah ada yang sampai bilang, "biar aja kitman gak usah di lapangan duduknya".

Problem terbesar muncul bulan Agustus. Mendadak dari TC Jakarta, semua manajemen diminta PSSI keluar dari hotel. Katanya pengiritan. Saya sih setuju saja, tahunya setelah itu ternyata ada kabar mereka mencurigai manajemen timnas soal penggelapan dana. Saya tidak tahu siapa dan mengapa ataukah benar atau tidak, yang jelas, setelah manajemen mendadak dibekukan, saya ngotot terus bertanya-tanya ke semua orang. Tetapi tidak ada jawaban. Saya kesal, akhirnya saya mendatangi teman saya di EO bola, untuk bertanya, "apakah benar ada manajemen bermain dengan uang? Bukannya selama ini urusan selalu ke PSSI dulu?". Saya minta data, saya minta bukti, karena jika memang manajemen timnas ada yang melakukan itu, saya akan jadi ikut terseret rasa malu. Memang terkadang di lapangan kami meminta A, B atau C kepada EO, katakan, kami butuh makanan tambahan, tiket ke garuda, atau aqua tambahan, semuanya untuk proses TC pemain tapi tidak pernah soal uang. Ada perbedaan budget yang saya lihat di EO, tetapi itu mungkin kebijakan PSSI mengatur kelebihan dana untuk hal-hal yang tidak mau saya campuri tetapi masuk akal. Namun saya kaget luar biasa seputar rumor tersebut. Setelah nanya sana-sini dan memang tidak ada bukti aneh, akhirnya isu tersebut hilang sendiri. Problem berganti ke soal gaji manajemen. Katanya tidak ada persetujuan dari awal. Lah? Gimana? Kok dicairkan setiap bulan? Siapa yang tanda tangan di PSSI? Lalu muncul alasan sekjen lama dll. Saya sih nggak mau ambil pusing, saya pikir itu adalah alasan yang teramat bodoh dan tidak masuk akal. Dan betapa kagetnya saya ketika mendapat memo pemotongan gaji hingga hampir 80% tanpa memanggil sama sekali. Saya utarakan keberatan kepada atasan dan juga sekjen baru (via e-mail) tidak mendapat jawaban. Saya kesal, tapi saya katakan bahwa jika ada pemotongan gaji saya tidak akan protes karena pelatih juga mengalaminya. Tapi kalau 80% dan tidak ada pemanggilan, saya keberatan. Itu adalah hal terendah yang bisa dilakukan sebuah perusahaan, organisasi atau apapun yang berkedok profesional. Jelas sebagian besar manajemen menolak. Apalagi saya, gaji awal saya saja tidak segitu, tapi kami tetap terus meeting (kalangan manajemen). Saya tetap ngotot ke atasan minta dipertemukan dengan PSSI. Tetapi sampai sekarang hanya pihak atasan yang saling bertemu jadi saya tetap tidak jelas ada apa di sana. Saya sms beberpa petinggi PSSI, dijawab "masih nunggu rapat". Saya masih toleran untuk emnunggu jawaban. Tetapi ternyata sudah dipotong pun gaji saya cuman keluar 2 bulan sebelum pemotongan dan nominalnya sudah berubah. Saya terima dan bilang, "saya tetap mau gaji sebelum SK pemotongan dicairkan sebelum nominal awal". Tidak ada respons, malah semua manajemen gajinya ditunggak berbulan-bulan, dan mendadak tidak dilibatkan dengan kegiatan apapun. Saya kesal dan punya batas toleransi. Saya bilang ke atasan saya, saya akan keluar. I don't f*cking care, begitu istilahnya. Namun saya mendapat info bahwa akan dirapatkan ulang. Namun sudah berbulan-bulan (kebetulan saya sibuk dengan hal lain sementara ini diurus), saya mendapat telepon dari teman manajemen, bahwa mereka akan kembali menghidupkan BTN. Kita masing-masing ditanya ekspektasi gaji. Saya timbang-timbang, saya pikir-pikir.....setelah mengalami diinjak-injak seperti itu, saya putuskan malah saya tidak mau kembali. Teman-teman masih bertahan dan hingga sekarang saya tidak tahu nasibnya. Saya sendirian sih tegas memutuskan keluar, dan meminta gaji saya semuanya diselesaikan. Saya bilang ke teman-teman, saya merasa kayak dilempar-lempar, tidak dihargai, dan malah ketemu saja tidak mau. Jadi buat apa saya bertahan? Big NO. Tetapi meski sampai saya bersikeras memutuskan keluar, gaji saya tetap belum diselesaikan. Sms bendahara, beberapa kali dijawab, beberapa kali tidak. Meminta ketemu juga diabaikan. Akhirnya saya mati rasa. Ditawarkan teman bawa ke hukum, saya sudah malas dan akhirnya memutuskan, "saya nggak butuh mereka lagi".

Saya tahu teman-teman masih ingin di sana dan menghargai keputusan mereka. Saya sendiri memutuskan untuk move on. Saya juga tidak mau masalah ini dimanfaatkan pihak lain untuk lebih gontok-gontokan. Coba lihat saja, mereka semua lebih fokus untuk menang dan aman dari segi politis. PSSI dan KPSI sama-sama sibuk berjuang untuk perkara keabsahan federasi, lupa bahwa banyak pemain belum digaji, sistem belum sepenuhnya benar, dan masalah internal belum selesai. Kalau saya perhatikan ucapan-ucapan di sosial media, mereka kerap bicara seputar pihak federasi saingan. Mengejek, menuduh konspirasi, menyangkut pautkan segalanya kepada musuh, tetapi tidak mau memandang kasus internal. Mereka lupa bahwa inti awalnya adalah perubahan sistem internal baru menuju prestasi. Mereka benar-benar lupa dan sibuk dengan perkara politis. Orang seperti ini bisa dilihat dari tipikal mereka berbicara di sosial media, lebih banyak membela diri atau menyerang lawan, padahal mungkin aturan tim ke luar, bench, rules pertandingan saja belum tentu tahu.

Jujur, ada yang baru-baru ini menawarkan kembali, either ke A atau B (sekiataran mereka lah), tetapi saya tolak dan berpikir, saya mending jadi penonton bola seperti dulu dibanding kerja di dalamnya dengan orang-orang yang berat untuk saya percayai lagi. Lebih baik saya selamanya duduk di bangku penonton dan mendukung timnas, dibanding saya berada di bagian dalamnya tetapi saya tidak bahagia. Saya sih tidak akan melunturkan dukungan terhadap timnas, saya pernah bilang kan bahwa itu milik semua. Tetapi bekerja di dalamnya mungkin tidak lagi. Mendukung orang-orang sebelah, jelas tidak. Saya sudah banyak dengar juga tentang mereka. Saya menulis inipun bukan karena kesal masalah gaji atau apapun dengan PSSI, saya sekarang sudah hidup lebih tenang kok. Tapi hanya berbagi sebuah pengalaman berharga saya. I want to fall in love with football once again, keringatan ke GBK, teriak-teriak, dan ketawa-ketawa dengan teman. Itu sepertinya lebih sehat untuk saya. Mungkin saya bisa dikatakan gagal, saya mohon maaf untuk itu. Namun saya tetap berharap, ke depannya semua akan lebih baik, entah dengan solusi apa. Kasihan juga mendengar banyak pemain dan officials berbulan-bulan belum digaji sementara mata pencaharian mereka hanya di bola, berbeda dengan yang lain. Semoga ini bisa dibenahi secepatnya. Jika semua persoalan sudah selesai, mungkin mereka akan bermain tanpa beban kehidupan, dan pihak lain bisa mengembangkan strategi serta teknologi untuk membantu. Seharusnya seperti itu.

Well, goodbye PSSI, but i will always support our national team. Always will.....


~desyc 2013~

sumber

Inilah Butir Kesepakatan PSSI-KPSI

Written By Japrax on Sabtu, 09 Juni 2012 | 00.49


JAKARTA, KOMPAS.com - Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Penyelamat Sepak Bola (KPSI) telah menandatangani nota kesepahaman di markas AFC di Malaysia, Kamis (7/6/2012). Nota kesepahaman tersebut merupakan solusi untuk menyelesaikan dualisme kepengurusan dan dualisme kompetisi yang terjadi di sepak bola nasional.

MoU tersebut ditandatangani oleh PSSI, KPSI, dan Indonesia Super League (ISL). Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin mewakili PSSI menandatangani MoU tersebut. Sementara La Nyalla dan Djoko Driyono mewakili KPSI dan ISL.

Adapun lima butir MoU antara PSSI, KPSI, dan ISL sebagai berikut:
 
Tentang empat anggota Komite Eksekutif PSSI yang dipecat.

PSSI setuju untuk mengembalikan posisi empat anggota komite eksekutif PSSI yang dipecat: La Nyalla Mattalitti, Roberto Rouw, Erwin Dwi Budiawan, dan Tony Apriliani. Namun, prosedur pengembalian ini akan ditentukan oleh Komite Bersama PSSI.

Status ISL
ISL setuju untuk berada di bawah yurisdiksi PSSI secepatnya, khususnya untuk masalah disiplin, administrasi pemain, dan transfer, dan penunjukkan perangkat pertandingan hingga satu-satunya liga profesional tingkat teratas dibentuk. Hingga saat itu, ISL bisa terus beroperasi secara otonom.

Status KPSI

Semua pihak setuju bahwa KPSI akan dibubarkan dan menghentikan keberadaannya sebagai badan pengelola sepak bola nasional. Lebih lanjut, semua pihak setuju bahwa KPSI akan dibubarkan dan menghentikan keberadaannya sebagai lembaga secepatnya setelah kongres PSSI berikutnya.

Pembentukan Komite Bersama PSSI

Semua pihak setuju untuk membentuk Komite Bersama PSSI yang berisi anggota dari tiap pihak untuk mengevaluasi IPL dan ISL untuk secepatnya membentuk satu-satunya liga sepak bola tertinggi di Indonesia. Komite ini akan bekerja di bawah pengawasan dan bekerja sama erat dengan Gugus Tugas AFC Indonesia dan bertanggung jawab untuk bekerja sama dengan FIFA dan AFC untuk memeriksa statuta PSSI dan masalah keorganisasian lain. Komite Bersama PSSI akan terdiri dari:
Ketua yang ditunjuk oleh PSSI
Wakil ketua ditunjuk oleh ISL/KPSI
Anggota: 3 anggota ditunjuk oleh IPL dan 3 anggota ditunjuk oleh ISL/KPSI

Kongres PSSI

Semua pihak setuju untuk menggelar kongres PSSI pada akhir tahun 2012, yang termasuk akan mengadopsi statuta baru. Komposisi dari kongres PSSI akan sama dengan Kongres PSSI yang berlangsung 9 Juli 2011 yang dihadiri oleh FIFA dan AFC dan agenda kongres harus disetujui oleh Gugus Tugas AFC Indonesia. Verifikasi dari komposisi peserta kongres akan dibicarakan dan ditentukan oleh Komite Bersama PSSI untuk menghindari anggota yang tidak sah berpartisipasi.

Jangan Lupa Follow Us Interisti

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Inter Milan Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger