
Siapa yang paling hebat di antara mereka? Well, jika melihat seberapa cepat mereka meraih prestasi puncak, tiga nama pertama pantas dikedepankan.
Nesta mengapteni Lazio saat menjuarai Liga Italia 2000, diikuti Totti setahun setelahnya. Del Piero meskipun secara “administratif” adalah wakil kapten Juventus namun ialah pemimpin Si Nyonya Tua di lapangan karena Antonio Conte lebih sering berada di bangku cadangan. Ia sudah terlibat dalam kejayaan Juventus di era 90-an lalu memimpin timnya meraih gelar 2003, 2005, dan 2006 (sebelum dicabut karena Calciopoli).
Nesta mengapteni Lazio saat menjuarai Liga Italia 2000, diikuti Totti setahun setelahnya. Del Piero meskipun secara “administratif” adalah wakil kapten Juventus namun ialah pemimpin Si Nyonya Tua di lapangan karena Antonio Conte lebih sering berada di bangku cadangan. Ia sudah terlibat dalam kejayaan Juventus di era 90-an lalu memimpin timnya meraih gelar 2003, 2005, dan 2006 (sebelum dicabut karena Calciopoli).

Namun jika ukurannya adalah konsistensi dalam waktu lama, Zanetti, Kapten Tua Yang Tak Kunjung Menua lah pemenangnya. Ia memang “baru” meraih gelar Serie-A pertamanya pada tahun 2006, namun kini setelah abad 20 berlalu satu dekade, lihatlah apa yang terjadi di lapangan. Nesta telah pindah ke Milan dan kini lebih banyak berkutat dengan cedera. Totti mulai tersingkir dari tim inti Roma karena kesulitan beradaptasi dengan strategi yang dibawa pelatih baru Luis Enrique. Del Piero bahkan mulai jarang muncul di bangku cadangan sekalipun. Bandingkan dengan Zanetti yang masih tetap bermain di hampir seluruh pertandingan Inter di setiap musimnya, dan selalu sebagai pemain starter dengan ban kapten di lengannya.
Padahal di antara mereka semua, Zanetti lah yang paling tua. Agustus nanti usianya akan menginjak 39 tahun.
Apa yang membuat El Pupi bertahan di tim inti? Inter adalah
salah satu tim yang paling sering berganti pelatih, terutama di era
1990-an dan awal 2000-an. Selama berada di Inter, Zanetti telah bermain
di bawah asuhan 17 pelatih berbeda, sejak Roy Hodgson hingga Claudio
Ranieri. Tak ada satupun di antara mereka yang sanggup menggeser Zanetti
dari tim inti. Tentu tidak mudah untuk bekerjasama dengan para pelatih
dengan berbagai pikiran dan strategi yang berbeda, namun Zanetti sanggup
melakukannya. Mengapa?
Karena ia punya skill, stamina, dan bisa bermain di segala posisi. Namun yang lebih penting adalah ia selalu mengeluarkan seluruh kemampuannya di lapangan. Seorang yang hebat sekalipun tidak akan berguna jika hanya setengah-setengah saat bermain.
Kesetiaannya juga berperan penting. Ia datang ke Giuseppe Meazza di saat Inter sedang mengalami masa-masa suram, dan masa suram itu masih berlanjut satu dekade lagi setelah kedatangannya. Inter hanya sanggup menjadi penantang gelar juara tanpa pernah benar-benar menjadi juara. Toh, Zanetti tak goyah. El Capitan -begitu para fans Inter menyebutnya- tetap bermain sepenuh hati. Kesetiaannya lalu terbalas saat Inter mendapat “durian runtuh” ketika dua rival berat mereka, Juventus dan Milan, terlibat calciopoli. Inter pun melangkah mulus meraih 5 gelar juara liga beruntun, yang kemudian diikuti keberhasilkan menjadi klub italia pertama yang meraih treble pada musim 2009/2010. Semuanya dengan Zanetti berposisi sebagai kapten. Menurut saya, itu adalah berkah bagi kesetiaan Zanetti bermain di Inter.
Makanya sungguh mengejutkan ketika Maradona tidak mengikutsertakannya di Piala Dunia 2010, mengulang apa yang dilakukan Jose Pekerman 4 tahun sebelumnya. Padahal selama kualifikasi ia selalu tampil habis-habisan membela Il Tango. Ada yang beralasan Zanetti sudah tua, tapi bukankah 2 bulan sebelumnya ialah yang mematikan Messi saat Inter mengalahkan Barcelona di semifinal Liga Champions? Maradona mungkin pemain terbaik yang pernah ada, tapi sebagai pelatih, ia adalah salah satu yang paling idiot di dunia.
Dan itu terbukti ketika timnya dibantai anak muda Jerman 4 gol tanpa balas. Lini pertahanan mereka yang diisi nama-nama seperti Otamendi, Heinze atau Demichelis dibuat tak berkutik (Jelas Zanetti jauh lebih hebat daripada mereka!). Toh, ia tak mengeluh banyak dan tetap bersedia tampil ketika dipanggil lagi di timnas setelah Piala Dunia lewat. (Waktu perlu dipanggil, waktu ikut acara utamanya malah gak dibawa. Kalau saya sih, gak akan mau lagi, tapi Zanetti mau! Sungguh kesetiaan tingkat tinggi!).
Karena ia punya skill, stamina, dan bisa bermain di segala posisi. Namun yang lebih penting adalah ia selalu mengeluarkan seluruh kemampuannya di lapangan. Seorang yang hebat sekalipun tidak akan berguna jika hanya setengah-setengah saat bermain.
Kesetiaannya juga berperan penting. Ia datang ke Giuseppe Meazza di saat Inter sedang mengalami masa-masa suram, dan masa suram itu masih berlanjut satu dekade lagi setelah kedatangannya. Inter hanya sanggup menjadi penantang gelar juara tanpa pernah benar-benar menjadi juara. Toh, Zanetti tak goyah. El Capitan -begitu para fans Inter menyebutnya- tetap bermain sepenuh hati. Kesetiaannya lalu terbalas saat Inter mendapat “durian runtuh” ketika dua rival berat mereka, Juventus dan Milan, terlibat calciopoli. Inter pun melangkah mulus meraih 5 gelar juara liga beruntun, yang kemudian diikuti keberhasilkan menjadi klub italia pertama yang meraih treble pada musim 2009/2010. Semuanya dengan Zanetti berposisi sebagai kapten. Menurut saya, itu adalah berkah bagi kesetiaan Zanetti bermain di Inter.
Makanya sungguh mengejutkan ketika Maradona tidak mengikutsertakannya di Piala Dunia 2010, mengulang apa yang dilakukan Jose Pekerman 4 tahun sebelumnya. Padahal selama kualifikasi ia selalu tampil habis-habisan membela Il Tango. Ada yang beralasan Zanetti sudah tua, tapi bukankah 2 bulan sebelumnya ialah yang mematikan Messi saat Inter mengalahkan Barcelona di semifinal Liga Champions? Maradona mungkin pemain terbaik yang pernah ada, tapi sebagai pelatih, ia adalah salah satu yang paling idiot di dunia.
Dan itu terbukti ketika timnya dibantai anak muda Jerman 4 gol tanpa balas. Lini pertahanan mereka yang diisi nama-nama seperti Otamendi, Heinze atau Demichelis dibuat tak berkutik (Jelas Zanetti jauh lebih hebat daripada mereka!). Toh, ia tak mengeluh banyak dan tetap bersedia tampil ketika dipanggil lagi di timnas setelah Piala Dunia lewat. (Waktu perlu dipanggil, waktu ikut acara utamanya malah gak dibawa. Kalau saya sih, gak akan mau lagi, tapi Zanetti mau! Sungguh kesetiaan tingkat tinggi!).

Bukti terbaru ia hadirkan saat Inter mengalahkan rival beratnya AC
Milan, Minggu malam(15/1). Semua yang menonton pasti setuju bahwa ialah
pemain terbaik malam itu. Ia bermain tak kenal lelah di seluruh area
lapangan , membuat pemain muda seperti Abate dan Pato terlihat seperti
para amatir. Ia juga mengirim assist yang mengantarkan Diego Milito
mencetak gol tunggal kemenangan Inter. Situs Goal.com International memberi
nilai 9.0 sebagai apresiasinya. Berapa orang pemain non-kiper seusia
dia yang masih mendapat nilai setinggi itu saat tampil dalam sebuah laga
penting?
Mungkin fans Inter agak berlebihan dalam menyikapi kemenangan tersebut. Il Nerazzuri masih tertinggal 6 poin dari sang puncak klasemen. Namun mereka benar ketika berkata “We have the best captain in Serie-A, or even in the world”. Zanetti -dengan penampilan all-out yang ditampilkannya di setiap duel yang dilakoni Inter- adalah contoh pemimpin terbaik yang bisa ditemukan di klub-klub besar Eropa, setidaknya untuk saat ini. Forza JZ4!
Note : Artikel Zanetti, Kapten Tua Yang Tak Kunjung Menua merupakan opini yang ditulis pada tanggal 16 Januari 2012, tepat setelah Zanetti memimpin Inter meremukkan Milan di Giuseppe Meazza pada pekan ke 18 Serie-A 2011/2012.
sumber

ijin copas bro...bener2 terharu......forza Jz4
BalasHapussilahkan.. free to copas.. :)
Hapus